Menyikapi Kesempatan Yang Datang


Siapapun mengenalnya dengan baik sosok bernama kesempatan. Dia datang dan pergi berlalu setiap saat dengan atau tanpa perduli oleh  kita. Seringnya
kita tak menyadari dia datang dan begitu dekat di depan mulut wajah kita. Bagi si pintar kesempatan disadari benar untuk ditangkap dan dimanfaatkan dengan benar. Sebaliknya bagi si bodoh kesempatan bagaikan makanan lezat siap saji di atas meja makan dibiarkan begitu saja tanpa disentuh sedikitpun.

Bila kita renungkan lebih dalam, sebenarnya kita sendirilah yang menciptakan kesempatan.  Ketika kita melihat sesuatu dari sisi yang  berbeda kita menemukan cahaya kesempatan di antara celah-celah kondisi dan situasi yang kita temui. Sederhana saja, pertanyaannya haya satu "apakah kita siap ketika kesempatan datang menghampiri kita?" Bukan perkara kita mampu atau tidak mampu untuk memanfaatkan kesempatan, tetapi kesiapan dirilah
yang menentukan kita bisa atau tidak untuk merangkul dan mengambil langkah tindakan. Tak heran bila kita banyak mendapati  keberhasilan para usahawan diperoleh dengan memasukan pundi-pundi kesempatan dalam tiap sudut ruang organisasinya. Jika kita pahami dengan bijak sebenarnya tiada kata kebetulan di kehidupan kehidupan yang ada hanyalah kita tak cerdik untuk menjaring setiap kesempatan yang muncul. Kita menganggapnya kebetulan karena dia datang  dan kita siap menyambut dalam kondisi dan situasi yang kita butuhkan. Sekarang bagaimana kita menilai sebuah kesempatan? Apakah kita biarkan dia pergi berlalu bagai debu diterpa angin tanpa pernah berpikir sesal datang kemudian ? atau dengan pasti kita membuka wahana pikiran akan datangnya
setiap kesempatan untuk kita berlari 100 langkah lebih cepat dari orang lain ?
 
Kesempatan mengetuk di saat yang paling aneh. Persoalannya bukan pada kapan itu terjadi, melainkan bagaimana anda membuka pintu. Dan bertemunya kesempatan dan kesiapan akan menciptakan sebuah KEBERHASILAN.

Kisah Seekor E L A N G


Seorang petani menemukan telur elang dan menempatkannya bersama telur ayam yang sedang dierami induknya. Setelah menetas, anak elang itu hidup bersama anak ayam lainnya. Anak elang itu tumbuh bersama anak-anak ayam, bermain bersama, makan bersama, dan berperilaku persis seperti anak ayam, karena ia mengira dirinya memang seekor anak ayam. Pada suatu hari, ia melihat seekor elang yang dengan gagah terbang mengarungi angkasa. “Wow, luar biasa! Siapakah itu?”, katanya penuh kekaguman. “Itulah elang, sang Raja dari segala burung!” sahut ayam sekitarnya. “Kalau saja kita bisa terbang ya? Luar biasa!” Para ayam menjawab, “Ah, jangan mimpi? Dia makhluk angkasa, sedang kita hanya makhluk bumi. Kita hanya ayam?” Demikianlah, elang itu makan, minum, menjalani hidup dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Nasib sepenuhnya ada di tangan kita. Langkah pertama untuk memulai perubahan adalah menyadari bahwa perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Dalam agama dikatakan, “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak berusaha merubahnya sendiri.” Maka untuk bisa berubah kita harus bergantung pada diri kita sendiri. Perubahan nasib tidak akan datang dari pergantian pemerintahan. Perubahan itu harus kita lakukan sendiri. Benar bahwa kita tak dapat memilih lingkungan kita, tapi kita selalu bisa memilih respon, kita selalu mampu memilih tindakan kita. Memang ada hal-hal di dunia ini yang berada diluar kekuasaan kita. Kita tidak bisa menentukan siapa orang tua kita, jenis kelamin kita, tempat kita dilahirkan, cara kita dibesarkan, bakat yang kita miliki dan sebagainya. Kebanyakan kitapun tak mempunyai kekuasaan untuk menentukan percaturan politik di dalam negeri ini. Tapi kita senantiasa bisa menentukan perilaku kita, kita bisa mengontrol apa yang akan kita lakukan.

Kesadaran bahwa nasib ada di tangan kita sendiri akan memberikan dampak yang signifikan dalam hidup kita. Kita punya kemampuan menentukan apa yang akan kita perbuat. Kita punya kemampuan penuh untuk menentukan skenario hidup kita. Akan jadi apakah kita 10, 20, atau 30 tahun lagi. Benar, akan ada pengaruh dari luar. Tapi Kita hanya dipengaruhi dan bukan ditentukan! Sikap inilah yang disebut sebagai bertanggungjawab, responsibility, yang berasal dari kata response+ability, yaitu kemampuan untuk melakukan respon terhadap situasi apapun. Respon adalah hasil keputusan kita sendiri, bukan ditentukan oleh situasi yang kita hadapi. Kesadaran semacam itu akan membuka mata kita bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Gunakan daya imajinasi Kita dan bayangkan diri Kita 10 tahun lagi. Ingin jadi apakah Kita? Dalami diri Kita dan kenalilah bakat-bakat dan potensi Kita yang terdalam. Bakat-bakat ini boleh jadi telah terkubur oleh situasi dan kondisi, padahal kalau dimunculkan Kita akan mengalami perubahan hidup yang dahsyat. Di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Kitalah yang sering “menggembok” diri kita dengan berbagai label yang diciptakan lingkungan maupun diri kita sendiri.

Dengan melakukan hal tersebut kita akan menemukan sesuatu yang menggairahkan. Dan siapa tahu, kitapun bisa terbang setinggi elang di angkasa.

Sikap Menghadapi Perubahan


Disukai atau tidak, diterima atau tidak bahkan disadari atau tidak, PERUBAHAN sudah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan keseharian kita. Bila dipikir sejenak dari contoh yang sederhana saja,  sebenarnya tanpa disadaripun, perubahan itu sendiri telah terjadi pada diri kita dengan sendirinya. Kondisi tubuh mulai merenta, rambut memutih, dan bentuk perubahan fisik lainya yang semakin menua dan melemah. Dengan semakin berjalannya waktu, usia akan terus bertambah tidaklah mengherankan kondisi fisik dan ketampanan kecantikan seseorang akan mengalami perubahan.
 
Demikian halnya dengan perubahan yang menghiasi dunia kerja dan organisasi, kemajuan teknologi dan informasi yang sedemikian cepatnya, bergesernya tren mode dan selera pasar terhadap berbagai produk,  persaingan sumber daya manusia yang semakin ketat dan perubahan dalam segala hal memaksa terjadinya perubahan tatanan dan  nilai yang ada.  Mungkin saja kita mengganggap sebuah keputusan yang tidak tepat atau salah 5 atau 10 tahun yang lalu, atau bahkan sebaiknya kita telah memilih keputusan yang terbaik pada saat itu dan ternyata sekarang bisa jadi merupakan keputusan yang kurang efektif atau menjadi keputusan terbaik saat ini. Jelas, ini menunjukkan wajah dunia yang selalu berubah. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana sikap terhadap sebuah perubahan?
 
Seperti halnya di dunia usaha, dengan semakin banyaknya pesaing masuk ke arena bisnis perusahaan kita, semakin berkompetisinya tenaga kerja apakah menjadikannya sebagai tantangan, cambuk bagi kita atau bahkan sebaliknya akan membuat kita terpuruk. Semua ini terpulang kepada kita sebagai anggota organisasi / perusahaan itu sendiri. Meskipun kita pahami, semestinya kita telah mengantisipasi dengan membuat atau merubah pendekatan / strategi-strategi baru yang lebih akurat, jitu, dan mengenai sasaran. Dan yang tidak kalah pentingnya meningkatkan relationship yang lebih baik antar sesama karyawan, dengan para mitra usaha, dan pihak-pihak yang turut mendukung keberhasilan diri dan organisasi.
 
Pada kenyatannya, yang kita temui banyak orang di lingkungan kerja memiliki alergi terhadap 'perubahan'. Perubahan  sudah dianggap menjadi momok yang menakutkan dan harus dihindari. Takut kehilangan posisi, pamor, kenyamanan, merasa tersaingi dengan kedatangan warga baru di organisasi, pengawasan lebih ketat, prosedur merasa lebih ruwet, atasan/pimpinan dianggap berkurang kepercayaannya, pendapatan takut menurun, karir lebih sulit diperoleh karena adanya sistem baru. Ketidakmampuan kita menerima perubahan membuat ketakutan dan keresahan hati timbul dan semakin menyelimuti pikiran. Kekhawatiran seperti itu rasanya tidak perlu ada sepanjang kita dapat menyikapinya dengan positif. Kita perlu percaya bahwa di dunia kerja manapun dan kapanpun perubahan di dalam organisasi pasti terjadi dan itu merupakan dinamika dunia kerja dan proses pembelajaran menuju peningkatan.
 
Sebenarnya perubahan-perubahan berasal dari dalam ke luar. Perubahan tidak datang dari pemangkasan  daun-daun sikap dan perilaku dengan perbaikan cepat dari teknik etika kepribadian. Perubahan berasal dari serangan pada akar susunan pikiran kita, paradigma yang fundamental dan essensial, yang memberi definisi  pada karakter kita dan menciptakan lensa kita untuk melihat dunia. Perubahan itu sendiri adalah sebuah proses transformasi pemikiran atau pendekatan yang lama beralih kepada pemikiran yang baru. Orang tidak dapat hidup dalam perubahan, jika tidak ada suatu inti yang tak dapat berubah pada dirinya. Kunci menuju kemampuan untuk berubah adalah perasaan tak berubah tentang siapa kita, bagaimana naskah hidup kita dan apa nilai-nilai kita. Lajunya perubahan takkan memampukan kita untuk menghentikan langkahnya yang dapat kita lakukan adalah bagaimana kita mengelola dan menyiapkan diri sebelum perubahan itu terjadi.
 
Bagaimana dengan Kita, dunia telah bergeser dan berubah, mengapa Kita  tidak juga berubah ? Jika Kita ingin lebih berhasil dalam kehidupan ini, sudah selayaknya Kitapun berubah. Lakukanlah hal-hal yang baru, kebiasaan-kebiasaan baru yang baik, serta perlakukanlah diri Kita dengan cara yang baru pula. Asahlah terus kemampuan Kita sehingga Kita memperoleh kemampuan dan pengalaman yang baru. Kalau Kita sudah puas dengan apa yang Kita peroleh sekarang dalam kehidupan ini, ini menandakan Kita tidak ingin berubah. Kita sudah terlena dengan apa yang telah Kita miliki, padahal dunia setiap saat berubah. Bagaimana Kita ingin memperoleh sesuatu yang berbeda jika cara-cara Kita selama ini, perilaku-perilaku Kita selama ini, tindakan-tindakan Kita selama ini atau bahkan strategi-strategi Kita selama ini selalu sama alias tidak ada ada perubahan.
 
Merasa tidak nyaman dan takut mengambil resiko yang akan terjadi, merupakan alasan mengapa kita sulit  untuk berubah. Perasaan takut gagal, takut salah, takut ditegur atasan, takut kelemahan diketahui oleh orang lain, takut diremehkan atau ditertawakan, serta takut-takut lainnya adalah membuat kita semakin sukar untuk menghadapi perubahan. Keberhasilan bukanlah diperoleh karena aneka ragam perbedaan budaya, warna kulit, ras, agama, sumber daya alam, jumlah penduduk, tingkat kecerdasan, negara kaya atau miskin, dan perbedaan lainnya – melainkan terletak pada pondasi atau prinsip dasar  manusia yaitu SIKAP DAN PERILAKU yang memampukan pikiran menjadi positif dalam menerima perubahan dan mengubahnya menjad energi yang menghasilkan karya yang lebih baik. 
 
MENERIMA ATAU TIDAK PERUBAHAN adalah sebuah PILIHAN, apakah kita memilih menjadi bagian dari komunitas orang-orang yang pkitai membuat alasan serta pembenaran terhadap tindakannya, padahal yang dilakukan hanyalah bersembunyi terhadap perubahan yang sedang terjadi dan tanpa disadarinya, cepat atau lambat laun dunia akan mengubah secara paksa ATAU MEMILIH menjadikan PERUBAHAN sebagai partner kerja dan hidup untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dan berkualitas. Itu sebuah PILIHAN, bukan!

Genggam Erat Sebuah Harapan

Lihatlah seorang Ibu tua dan seorang anaknya dengan penuh semangat sedang menjajakan nasi bungkus daun pisang dagangannya di pinggir jalan di kota damai Banjarmasin. Saat itu petang menjelang dengan tergesa-gesa. Sinar cahaya dari lampu jalan tak cukup mampu menerangi dagangannya. Lalu lalang derap langkah kaki kerumunan orang dan kendaraan datang silih berganti. Siapa pula yang tertarik membeli? Namun, mereka berdua silih berganti menyapa dan menawarkan dagangannya. "Ibu, mengapa Ibu yakin ada yang ingin membeli dagangan Ibu" "Lalu bagaimana Ibu bisa menjajakan barang di keremangan dan suasana yang sedemikian riuhnya seperti ini?"


Dengan sederhana Ibu itu menjawab, "Ibu tak pernah kehilangan harapan," begitu jawabnya. "Itulah satu-satunya yang membuat Ibu tetap semangat. Ibu tak tahu apa dan bagaimana membesarkan usaha ini, namun Ibu hanya tahu harapan takkan pernah meninggalkan Ibu bila Ibu terus menggengamnya"
Ah, ungkapan yang begitu lugu dan menyentil ruang kesadaran hati. Belajar dari sebuah filosofi yang sederhana dan syarat dengan makna, semestinya kita berterima kasihlah pada orang-orang papa yang mampu memberikan teladan dan menebarkan harapan perbaikan hidup pada kita. Mereka bagaikan tiang penyangga yang mampu menahan langit dari keruntuhan. Dan mereka bagaikan peredup terik mentari kehidupan yang adakalanya hidup terasa panas membakar.


Seorang guru yang bijak akan berkata, sebuah harapan akan memampukan seorang Ibu menyusui anaknya, dengan harapan mempu mendorong kita menanam benih kebaikan suatu saat nanti sempat atau pun tidak kita petik buahnya yang ranumnya. Dengan harapan seorang cacat mampu menggapai prestasinya, dengan harapan seorang tua renta mampu membesarkan anak-anaknya hingga berhasil, dan dengan harapan sebuah perusahaan mampu terus mengembangkan sayap usahanya. Pahamilah bila kita kehilangan harapan meski sekali saja, sama artinya kita kehilangan kekuatan kita untuk menghadapi dunia ini.
Tulislah berjuta harapan dalam lembaran putih dengan tinta pena keinginan dan kesungguhan hati kita. Bawalah gengaman harapan bersama setiap detak langkah menggapai kenyataan. Niscaya kita kan takjub karenanya ketika harapan dan kenyataan begitu erat kita gemgam dan raih

Berat Segelas Air



Pada saat Kuliah tentang "Manajemen Stress", Stephen Covey mengangkat segelas ar dan
Bertanya kepada para siswanya,

"Seberapa berat menurut anda, Kira2 segelas Air Ini..?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 Gram sampai 500 Gram,

"Ini bukanlah masalah berat absolutnya.. Tapi tergantung berapa lama anda
Memegangnya" kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama satu Menit..tidak ada masalah..",

"Jika saya memegangnya selama satu Jam..
lengan kanan saya akan sangat sakit.."

"....dan jika saya memegangnya selama satu hari penuh..jelas anda harus memanggilkan Ambulans untuk saya.."

"Beratnya sebenarnya sama....tetapi semakin
lama saya memegangnya maka bebannya akan semakin berat.."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus....lambat laun kita tidak akan
mampu membawanya lagi.. karena beban itu akan meningkat beratnya.."
lanjut Covey,

"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut...
Istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.."

"Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.."

Jadi ?? Mari lepaskan beban kita sesaat!, nikmati hari libur bersama keluarga...Berhentilah sejenak2

Orang Yang Dirindukan Langit


Dimanakah letaknya ’nilai seorang manusia’? Hartanya? Mungkin. Jabatannya? Juga mungkin. Untung saja harta dan jabatannya itu bukanlah jawaban mutlak. Karena tidak semua orang punya harta banyak, atau jabatan tinggi. Jadi, dimanakah gerangan letaknya nilai seseorang? Ada ungkapan ”pergi tak ganjil, datang tak genap”. Begitu kita menyebut orang-orang yang tidak memiliki arti apa-apa bagi orang lain. Ada atau tidaknya dia, sama sekali tidak punya pengaruh apapun. Coba jika orang itu sanggup memberi makna atas kehadirannya. Maka orang lain, akan senantiasa merindukannya. Menantikan kedatangannya. Dan mencarinya, jika dia tidak kunjung datang. Jelas sekali jika nilai seseorang itu terletak pada apa yang dilakukannya untuk orang lain. Lho, bukankah jika punya harta yang banyak kita bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain?

Benar. Kalau kita kaya; maka kita bisa berbuat lebih banyak untuk orang lain. Teorinya sih begitu. Tapi banyak juga kan orang kaya yang semakin pelit. Dan banyak juga orang kaya yang dermawan tapi sangat pamrih. Tidak. Nilai seseorang tidak ada kaitan langsung dengan kekayaan. Dalam banyak situasi, orang yang tidak kaya malah jauh lebih dermawan daripada orang berada. Banyak orang yang hidupnya pas-pasan, tapi lebih peka dan lebih peduli kepada orang lain. Saya yakin. Anda pun mengenal orang-orang seperti itu. Karena orang-orang berhati mulia seperti itu berada di sekitar kita. Misalnya, seorang lelaki yang saya kenal di lingkungan tempat tinggal saya. Izinkan saya menceritakan kisahnya.

Orang itu sangat dikenal warga. Khususnya jamaah masjid. Setiap kali sembahayang di masjid, orang itu selalu ada. Sebagai orang baru di lingkungan itu, tentu saya sangat mengaguminya. Kepada saya, dia baik sekali. Kepada orang-orang yang lain pun selalu ramah. Menyapa dengan caranya yang istimewa. Menyalami dengan genggaman yang bersahabat dan penuh semangat. Saya sering melihat dia menjadi orang terakhir yang meninggalkan masjid, dan dialah yang menutup pintu gerbangnya. Semula saya mengira dia itu petugas masjid. Ternyata bukan. Jika ada acara di masjid, maka dia seperti pemeran utama dalam setiap pekerjaan yang dihindari oleh kebanyakan orang lainnya. Sampah-sampah yang berserakan dibersihkannya. Karpet miring dirapikannya. Boleh dibilang; orang ini adalah ’benteng pertahanan terakhir’ dalam setiap kegiatan.

Entah perasaan saya saja. Atau memang demikian adanya; kebaikan orang ini kepada saya, melebihi kebaikannya kepada orang lain. Ini membuat saya seperti punya pertalian batin. Akhir-akhir ini, saya tidak lagi melihat orang itu. ”Mungkin sudah pulang kampung,” begitu saya berpikir. Ada rasa kangen kepadanya. Meskipun dia punya kekurangan, namun kekurangan itu menjadi salah satu keistimewaan tersendiri baginya.

Tahukah Anda siapa nama orang itu? Saya yakin Anda tidak tahu. Karena, tidak seorang pun diantara kami yang mengetahui namanya. Bukannya kami tidak peduli, tetapi karena sejarah yang melekat terhadap proses kedatangan dan perkenalan awalnya. Orang itu berasal dari daerah. Tinggal di lingkungan kami untuk menunaikan tugas dari majikannya menjaga rumah kosong yang tidak ditinggali pemiliknya dalam waktu yang lama. Pada waktu itu, warga sedang membangun masjid. Dan orang ini tanpa bicara. Tanpa berkata ini dan itu. Tanpa bertanya berapa upahnya. Dia langsung mengangkat batu. Mengangkut pasir. Menggali tanah. Menggotong kayu. Dan mengerjakan pekerjaan-pekarjaan kasar lainnya. ”Siapakah orang itu?” Tak ada yang tahu. Yang jelas, dia bukan tukang yang dipekerjakan oleh pemborong proyek. Namanya proyek, tentu tidak sembarang orang boleh masuk. Maka dia pun ditanya; ”Kamu siapa?”

Orang itu menjawab; ”Hahu.”
”Nama kamu siapa?” orang-orang bertanya lagi.
”Hahu!” katanya.
Tidak peduli berapa kali ditanya, orang itu memberikan jawaban yang sama. ”Hahu!”
Maka sejak saat itu, orang memanggilnya Pak Gagu. Sebutan umum untuk orang yang tuna wicara. Orang-orang pun paham, mengapa selama ini dia tidak banyak bicara.

”Kamu mau apa kesini?” pertanyaan berikutnya meluncur.
”Hahu! Hahu, hahu!” katanya. Saya bisa membayangkan wajahnya yang sumeringah dengan sorot matanya yang berbinar-binar. Orang itu benar-benar mempunyai semangat seperti seorang anak kecil yang diberi mainan baru oleh ayahnya.

”Kamu?” kata orang-orang. ”Mau apa datang kesini?” Pertanyaan itu kembali ditegaskan.
”Hahu! Hahu, hahu!” Jawab Pak Gagu. ”Hahu Hahu! Haaaahu!” tambahnya lagi. Dia berusaha untuk menjelaskan panjang lebar dengan bunyi ’hahu’-nya. Namun kali ini sambil memperagakan cara mengangkat, menggali, dan menggotong. Lalu tangannya seperti sedang melukis sesuatu di udara.

”Masjid?” tanya orang-orang.
”Hahu. Hahu!” jawabnya sambil tertawa lebar.
Sekarang orang-orang mengerti bahwa Pak Gagu itu datang untuk ikut bekerja sebagai buruh pembangunan masjid. Sebenarnya, tidak diperlukan tenaga kerja tambahan. Tapi mengingat kondisinya yang seperti itu. Dan kesungguhannya dalam bekerja. Maka diputuskanlah jika Pak Gagu diterima untuk bekerja sebagai buruh bangunan proyek itu. Dia pun menampakkan wajah riang gembira. Sejak saat itu, Pak Gagu resmi menjadi pekerja di proyek itu.

Hari gajian pun tiba. Pak Mandor tentu sudah menyiapkan segepok uang untuk membayar upah kerja. Satu persatu wajah-wajah lelah itu berubah sumeringah. Hari ini, tetesan keringat mereka membawa hasil berupa rupiah. Hari ini, mereka gajian. Mereka pun mengantri dengan tertib. Setelah semua pekerja lama menerima gajinya, tibalah giliran Pak Gagu.

”Gagu, sini.” Pak Mandor memanggilnya.
Orang yang dipanggil tidak juga menyahut. Dia terus saja sibuk dengan urusannya. Tidak ikut berkerumun seperti orang lainnya. Sekarang orang tahu. Bahwa selain Gagu, orang ini juga tidak bisa mendengar secara sempurna. Butuh seseorang untuk memanggilnya dengan suara keras sekali. Dan dia pun datang menghampiri Pak Mandor yang siap membayar gaji.

”Ini...” kata Pak Mandor setengah berteriak. ”Upah kamu.”
”Hu?” Wajah Pak Gagu seperti membeku. ”Hahu hahu hahu!!!!!” Katanya. Dia mengibas-ngibaskan tangannya. Seperti orang yang mengatakan ’tidak’.

”Maksud kamu apa?” tanya orang-orang.
”Hahu! Hahu, hahu!” Jawabnya sambil kembali mengibas-ngibaskan tangan. Ditambah beberapa gerakan lain yang membuat semua orang semakin bingung.
”Kurang?” Kata Pak Mandor. ”Kan semua orang juga bayarannya sesuai pekerjaan....”
”Hahu! Hahu hahu...” jawab Pak Gagu. Tangannya kembali sibuk mengibas-ngibas.

Untuk kalimat terkahir ini, semua orang bisa mengerti maksudnya. Kira-kira begini; ”Bukan, bukan begitu....”

”Jadi maksud kamu apa?” Semua orang semakin penasaran.
Pak Gagu pun segera mengucapkan ”Hahu! Hahu, hahu!”nya berulang kali. Sambil menggambar di udara lagi. Gambar masjid, tentu saja. Lalu memasuk-masukkan comotan tangannya ke mulutnya seperti orang makan. Kemudian tangannya di kibas-kibaskan. Terus, telapak tangannya mengusap-usap perutnya. Setelah itu telunjuknya menunjuk-nunjuk ke langit.

Setelah memikirkannya dengan cermat. Orang-orang paham bahwa yang dimaksud Pak Gagu adalah begini;”Saya bekerja disini untuk membangun masjid. Bukan untuk mencari makan. Karena kebutuhan perut saya sudah dijamin oleh Allah Yang Maha Menafkahi....”

Subhanallah.
Semua orang terpana.
Pak Gagu itu profesinya hanya penunggu rumah orang lain. Tapi punya jiwa yang sedemikian beningnya.....

”Hahu! Hahu hahu...” kata Pak Gagu lagi. Sekali lagi menggambar di udara. Gambar masjid lagi. Kemudian jempol dan jari tengahnya digesek-gesek. Lalu tangannya dikibas-kibaskan. ”Saya mau ikut membangun masjid ini. Bukan mau mencari uang......” Begitu maksudnya.

Merinding orang-orang mendengar penyataan Pak Gagu. Dengan segala kekurangan fisiknya, dia mempunyai jiwa yang sedemikian sempurnanya.

Hingga masjid itu selesai dibangun. Pak Gagu menjadi bagian yang memberikan andil tak ternilai. Jika warga kompleks pada umumnya menyumbang sejumlah uang atau material lain dalam berbagai bentuknya. Maka Pak Gagu, menyumbangkan tenaganya untuk mewujudkan rencana itu. Mengaduk, menyusun, dan menembok material itu. Hingga mewujud menjadi sebuah masjid. Masjid Al-Falah namanya. Masjid di komplek kami.

Kejadian itu, berlangsung lama sebelum saya tinggal di situ. Tapi, tahukah Anda; darimana saya mengetahui cerita itu? Dari salah seorang tokoh masyarakat. Mungkin saya tidak bisa menceritakan detail dan akurasi kisahnya 100%. Tetapi, cerita itu dibenarkan oleh tokoh masyarakat lainnya. Selama saya mengenal Pak Gagu, saya dapat merasakan betapa beliau adalah orang yang tidak lagi terikat oleh keterbatasan dirinya. Dalam acara kerja bakti, saya sering melihatnya menenteng alat-alat kerja. Disaat warga yang punya rumah tinggal dan mobil bagus pada sibuk dengan alasannya untuk mangkir kerja bakti, Pak Gagu yang ’hanya’ penunggu rumah itu justru tampil diposisi paling depan.

Orang-orang berada seperti kita, terbiasa bertanya;”Saya kan sudah bayar iuran bulanan, kenapa urusan kebersihan lingkungan masih harus kita kerjakan?”

Pak Gagu yang memiliki kekurangan itu terbiasa tidak bicara. Karena selain Gagu, baginya mulut itu lebih baik ditutup daripada mengucapkan kata-kata yang tidak bermakna. Pada diri Pak Gagu, saya melihat contoh hidup orang yang menjalankan nasihat Rasulullah;”Bicaralah yang baik. Kalau tidak bisa, diam sajalah....”

Daripada menggunakan mulutnya untuk mengungkit-ungkit iuran yang sudah dibayarkan seperti kebanyakan warga komplek, Pak Gagu memilih untuk tidak bicara. Dia diam saja, karena tahu bahwa Rasul memerintahkannya demikian. Setelah itu, dia melakukan Firman Tuhan dalam kitab suci; ”Berlomba-lombalah untuk melakukan kebaikan!”

Sungguh.
Pak Gagu itu seorang tuna wicara. Tidak bisa bicara dengan baik. Tapi segala hal yang dia lakukan untuk orang lain telah menjadikan kata-kata kehilangan makna. Disaat orang lain sibuk menanyakan mengapa mesti begini, mengapa tidak begitu sebelum berbuat kebaikan bagi orang lain; Pak Gagu menikmati kebisuannya dengan segala kebaikan.

Sungguh.
Pak Gagu itu seorang tuna rungu. Tidak bisa mendengar dengan sempurna. Tapi setiap subuh, dia sholat berjamaah di masjid yang dia ikut serta membangunnya. Bagaimana dia mendengar suara adzan? Disaat orang lain sibuk memanjakkan rasa ngantuk karena lelah kemarin mencari uang seharian. Dan merasa telah sempurna amalnya karena sudah menyumbang untuk pembangunan masjid; Pak Gagu menikmati kesunyiannya dengan dzikir dan panggilan menuju kemenangan hakiki. ”Hayya ’alal falaaah... Mari menuju kepada kemenangan...”.

Akhir pekan lalu, saya diajak oleh pengurus masjid untuk bertandang ke kandang di pasar hewan. Jauh. Di Bogor. Tapi karena rame-rame ya jadinya asyik juga. Disana, ada pasar khusus sapi. Pilihannya banyak. Dan sudah menjadi langganan pemasok sapi kurban kami selama bertahun-tahun.

Setelah cocok segalanya. Pedagang sapi bertanya; ”Kapan sapinya mau dikirim....?”
”Seminggu sebelum kurban saja...” kata salah seorang diantara kami.
”Weeeh... jangan kelamaaaaan..” jawab yang lain. ”Sehari sebelum kurban saja.”
”Kenapa? Kan lebih baik jika beberapa hari sebelumnya...”
”Jangaaan.. bisa repot urusannya.” jawab beliau. ”Siapa yang ngurus?” katanya. ’Kalau ada si Gagu sih enak....”

Deg. Jantung saya seperti ditumbuk ketika mendengar kalimat ”Kalau ada si Gagu sih enak....” Seolah menjawab kerinduan saya kepadanya selama ini.

”Memangnya Pak Gagu kemana, Pak?” saya tidak kuasa menahan rasa pensaran itu.
Terlalu besar kerinduan saya kepada sosok Pak Gagu. Kepada keistimewaan yang dibangunnya dari kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Kepada keikhlasannya. Kepada kerendahhatiannya. Kepada kekhusyuannya dalam beribadah. Kepada semua yang ada pada dirinya.

Ternyata. Bukan hanya saya yang merindukan kehadiran Pak Gagu.
Rupanya langit pun merindukannya. Malaikat merindukannya. Surga merindukannya. Dan Tuhan. Pun merindukannya. ”Memangnya Pak Gagu kemana, Pak?” Pada tanggal 1 Januari 2012. Setelah sembahyang subuh Pak Gagu mengayuh sepedanya. Lalu telinganya yang tak bisa berfungsi sempurna itu sayup-sayup mendengar panggilan mulia ini; ”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah engkau kedalam golongan hamba-hambaKu. Dan masuklah engkau, kedalam surgaKu....”

Selama ini, Pak Gagu sudah menjadi contoh hidup bagaimana ajaran Nabi dan kalam-kalam Ilahi tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Di pagi yang sunyi itu, Pak Gagu kembali menunaikan panggilan Ilahi yang sayup terdengar ditelinga jiwanya itu. Sebuah sepeda motor yang melaju kencang mengantarkan dirinya memenuhi panggilan atas kerinduan Ilahi itu. ”BRAAAKKK.....!!!” Sepeda tuanya terlempar hingga ringsek. Sedangkan Pak Gagu, terbang ke langit. Memenuhi panggilan Ilahi. Untuk yang terakhir kalinya.

Petani dan Kandang Kambing




Pada kesempatan ini izinkan saya menyampaikan sebuah cerita ringan yang [semoga] bermakna untuk perbaikan diri atau pun organisasi kita. Bermanfaat untuk perubahan. To change being better!
Tersebutlah ada seorang petani  dan keluarganya yang tinggal di sebuah kampung. Tempat tinggal masyarakat di kampung tersebut adalah rumah yang berbentuk panggung. Umumnya kolong rumah di sana dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan barang-barang pertanian, tapi ada juga yang dimanfaatkan sebagai kandang hewan ternak.

Tokoh cerita kali ini adalah seorang petani yang menjadikan kolong rumahnya sebagai kandang kambing yang diternaknya. Tidak banyak memang, namun lumayan cukup untuk memenuhi keperluan lauknya sepanjang tahun, bahkan di bulan haji terkadang bisa menjual 2 atau 3 ekor kambing.

Demikianlah kehidupan si petani ini. Dia dan keluarganya sudah terbiasa dengan suasana kandang kambing itu. Suara embiknya sudah menjadi irama biasa bagi pendengarannya. Bahkan bau khas kandang kambing pun sudah tidak bermasalah bagi indera penciuman mereka. Sudah biasa saja. Tidak ada yang mengganggu. Berbeda dengan keadaan pertama kali mereka menjadikan kolongnya sebagai kandang kambing. Dulu isteri dan anak-anaknya sering mengeluhkan akan bisingnya suara embik kambing di tengah malam, atau bau amisnya yang menyengat sepanjang hari. Tapi itu dulu. Sekarang tidak lagi. Sudah terbiasa.

Pada suatu kesempatan, keluarga petani ini berkunjung ke rumah saudara mereka di kampung sebelah. Ada hajat pernikahan ponakan mereka di sana. Kebiasaan di kampung itu, bisa sampai tiga hari tiga malam pestanya.  Karena keluarga si petani itu bukanlah tamu, melainkan saudara, maka mereka ikut menjadi panitia hajat pernikahan tersebut. Menbantu ini dan itunya. Mereka larut dalam suasana bahagia. Pesta meriah. Tamu-tamu yang datang berpakaian dengan eloknya. Wangi parfum semerbak di setiap pojok.

Setelah selesai pestanya mereka pun kembali ke kampungnya.Tapi ada sesuatu yang lain yang mereka rasakan setelah kembali dari pesta pernikahan itu. Hanya baru di halaman rumahnya saja, mereka menciumi bau khas kambing yang mengganggu. Dan mereka tidak bisa tahan karenanya. Anak isteri petani itu mulai menggerutu. Kemudian, begitu masuk ke rumahnya, suara embik kambing pun bersahutan. Gerutuan anak isterinya pun bertambah. Tanpa menunggu waktu lama, anak dan isteri petani itu pun mengultimatum ayah mereka agar hari itu juga kandang kambing harus di pindah ke kebun belakang. Mereka tidak tahan dengan bau dan embiknya.

Ya begitulah akhirnya. Kangdang kambing pun digusur dari kolong rumahnya. Tiga hari yang mereka lalui di tempat pesta pernikahan itu telah merubah sensitifitas indera penciuman dan pendengaran mereka menjadi lebih 'normal'.
---
Moral lesson:
Mungkin di tempat yang kita betah sekarang ini (bisa rumah, bisa kantor, lingkungan, dll), ada ‘bising suara dan bau kambing’ yang sebenarnya tidak enak. Tapi karena kebiasaan, maka itu sudah dianggap wajar saja.

Kiranya ada baiknya kita berkunjung ke tempat lain yang ‘bagus dan wangi’ sejenak untuk kemudian kembali ke rumah kita dan bisa menata kembali segala sesuatunya agar lebih indah dan wangi.

Mungkin demikian ilustrasi dari benchmark dalam pengertian sederhana yang dicontohkan oleh seorang petani di atas. Semoga kita dapat memetik hikmahnya.
Terimakasih,

Memperkaya Diri Dengan Pengalaman



Halah. Kaya pengalaman. Kami ingin kaya harta!
Haha. Siapa juga yang tidak ingin kaya dengan harta. Saya juga termasuk didalamnya. Tapi, kalau pun saya sudah kaya nanti, saya tidak bisa membagi harta saya kepada Anda. Bukannya saya pelit. Tetapi, sebanyak apapun harta saya; tidak akan cukup untuk dibagikan kepada semua orang yang menginginkannya.

Namun jika Anda ingin memperkaya diri sendiri dengan ilmu dan pengalaman, maka Anda bisa mengandalkan saya sebagai teman seperjalanan. Lalu dengan ilmu dan pengalaman itu, kita bisa memperbesar peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih banyak. Siapa tahu, dengan kaya pengalaman itu; pada akhirnya kita juga bisa kaya harta kan? Bagaimana, apakah sekarang Anda siap untuk memperkaya diri dengan pengalaman? Baiklah. Kita mulai perjalanan ini. Sekarang.

Seperti halnya Anda, saya punya cukup banyak teman yang telah bekerja lebih dari 20 tahun. Tetapi, teman-teman yang sudah sedemikian lama bekerja ini sangat miskin sekali dengan pengalaman. Saya juga punya teman yang masa kerjanya baru beberapa tahun saja. Tapi dengan masa kerja yang pendek itu, mereka mempunyai pengalaman yang sangat banyak. Lantas saya bertanya-tanya; apakah gerangan yang membuat kedua kelompok teman itu berbeda sangat jauh sekali?

Saya menemukan cukup banyak indikasi. Salah satunya begini. Kebanyakan pekerja, hanya menyibukkan dirinya sendiri dengan tugas-tugas hariannya seperti orang lain mengerjakannya. Misalnya. Seseorang bekerja di pabrik sepatu. Tugas hariannya adalah memotong kulit bahan sepatu. Tentu begitu tugasnya jika bekerja di bagian cutting. Setiap hari. Dengan dedikasi tinggi dia berangkat dari rumahnya, menuju ke pabrik tempatnya bekerja. Lalu dengan tekun menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Tidak ada sedetik pun waktu kerja yang disia-siakannya. Ketika jam kantor selesai. Barulah dia pulang dengan perasaan lega karena; hari itu sudah ditunaikannya tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Apakah dia karyawan yang baik? Yes. Definitely. Dia seorang karyawan yang sangat baik. Karena, begitu dilakukannya setiap hari disepanjang karirnya. Tidak pernah kurang dari itu. Hari-hari berlalu. Seperti Anda yang sering tidak ingat tanggal. Karyawan ini pun sering tidak peduli hari. Pokoknya, setiap hari mencurahkan pengabdiannya kepada pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Alon-alon, konsisten, dilakoni. Tanpa terasa, dirinya sudah menjalani hari-hari seperti itu selama 15 tahun. Ya ampuuun, nggak kerasa ya….?

Bagus? Bagus sekali. Loyal? Loyal sekali. Berdedikasi? Oh, tinggi sekali. Lalu perhatikan pertanyaan ini; “Apakah teman kita itu mempunyai pengalaman yang banyak setelah selama 15 tahun bekerja dengan baik dipabrik sepatu itu?” Renungkanlah dulu pertanyaan itu, sebelum Anda menjawabnya.
Setelah merenungkannya sejenak. Cek lagi. Apakah jawaban Anda akurat. Jika sudah yakin, bandingkan dengan jawaban saya berikut ini; “Orang itu, hanya memiliki 1 (SATU) pengalaman. Yaitu, teknik memotong kulit bahan sepatu”. Samakah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang saya berikan? Ah, sama atau tidak, bukan masalah. Yang penting sekarang Anda paham, bahwa setelah bekerja belasan tahun, teman kita itu masih saja miskin dengan pengalaman.

“Heyheyhey…. Gue nggak kerja di pabrik sepatu!” Mungkin Anda berjingkrak kegirangan. Hmmh… semoga saja Anda tidak keberatan jika sebenarnya saya tidak sedang membicarakan karyawan di pabrik sepatu. Saya hanya meminjam kisahnya sebagai ilustrasi bahwa betapa banyak karyawan hebat yang sangat berdedikasi kepada pekerjaannya selama bertahun-tahun. Namun tidak sadar jika selama rentang waktu yang panjang itu mereka hanya melakukan pekerjaan yang itu-itu saja. Mari jawab pertanyaan ini; “Sudah berapa lama Anda mengerjakan tugas harian yang saat ini Anda kerjakan?” Satu bulan? Satu tahun? Satu windu? Satu dekade?

Mari dengan tulus kita perhatikan diri kita dan lingkungan tempat kerja kita. Anda mengenal sekretaris yang sudah puluhan tahun bekerja disana; sebagai sekretaris. Anda melihat office boy yang belasan tahun bekerja disana sebagai office boy. Anda melihat orang sales yang bertahun-tahun menjadi orang sales di posisi yang sama. Orang marketing. Orang manufacturing. Orang finance. Orang HRD. Orang legal. Orang…. Adakah posisi dikantor Anda yang belum saya sebutkan? Tolong dilengkapi kekurangan saya ya. Agar kita bisa melihat. Betapa, kita telah membiarkan diri ini miskin pengalaman setelah selama bertahun-tahun disibukkan dengan urusan, tantangan dan keruwetan yang itu-itu saja.

Sahabatku. Kekayaan diri kita atas pengalaman, tidak dibentuk dari mengerjakan tugas yang sama sepanjang waktu. Melainkan dari kesediaan kita untuk mencoba hal-hal lain selain tugas-tugas rutin yang setiap hari mesti kita kerjakan. Jika ingin kaya dengan pengalaman, maka kita mesti mau keluar dari zona nyaman. “Jadi….. mesti pindah kerja maksudnya?” Mungkin kebanyakan orang berpikir demikian. Tapi, izinkan saya mengajak Anda untuk melihat solusi lainnya.

Untuk memperkaya diri dengan pengalaman, Anda tidak perlu pindah ke perusahaan lain kok. Malah sebaiknya, jika perusahaan tempat Anda bekerja sekarang telah menerapkan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik a.k.a Good Corporate Governance; sebaiknya Anda tinggal disana. Dan bangunlah masa depan karir Anda mulai dari sana. Jangan pindah ke tempat lain.

Lantas, bagaimana caranya memperkaya diri dengan pengalaman itu jika masih terus berkutat disitu? Oooh, tentu ada caranya. Tapi sebelum saya membahas lebih jauh, izinkan saya bertanya; bersediakah Anda untuk ‘membayar harganya’? H-ha-harus bayar? Tidak dengan uang Anda. Tenang saja. Cukup dengan menginvestasikan tiga hal ini saja; (1) komitmen pribadi yang tinggi (2) tenaga yang lebih banyak, dan (3) waktu ekstra. Itu saja. Bagaimana, Anda bersedia? Jika Anda benar-benar ingin memperkaya diri dengan pengalaman, Anda tentu bersedia kan? Yes. Keren!

Nah, jika Anda bersedia. Kita akan lanjutkan pembahasan tentang langkah-langkah praktis yang bisa Anda tempuh. Tapi, supaya artikel ini tidak kepanjangan. Ijinkan saya untuk menguraikannya dalam tulisan edisi yang akan datang. Sekarang, kuatkan lagi kesediaan Anda untuk membayar dengan 3 hal diatas. Bukan dengan uang Anda. Lalu, hari ini; Anda kerjakan tugas rutin Anda sebaik-baiknya. Kemudian, tambahkan sedikit doa agar saya bisa memposting artikel tentang langkah-langkah praktisnya besok pagi. So, see you again tomorrow morning with the second part of this topic. Dan sebelum kita berpisah hari ini, ijinkan saya untuk menyampaikan pesan di white board milik Natin The Office Boy berikut ini; Jabatan Anda tidak berguna lagi jika sudah pensiun. Gaji berheti dibayarkan. Dan segala fasilitas mesti dikembalikan kepada perusahaan. Tapi pengalaman Anda, akan Anda bawa pulang. Dan menjadi milik Anda. Untuk selama-lamanya.” Sampai jumpa lagi esok hari. Doakan saya mampu melakukannya ya. Bismillah.

Cara Memperkaya Diri Dengan Pengalaman


Jika saat ini Anda dapat membaca artikel ini, berarti Tuhan telah mengijinkan saya untuk meneruskan artikel saya sebelumnya dengan tema “Memperkaya Diri Dengan Pengalaman”  Seperti yang saya janjikan, kali ini kita akan membahas tentang cara praktis yang bisa kita tempuh untuk memperkaya diri dengan pengalaman sehingga dengan masa kerja yang ada, kita bisa memiliki pengalaman yang lebih banyak. Mengapa kita membutuhkannya?

Karena sahabatku, kelak jika kita sudah pensiun. Segala sesuatunya harus kita kembalikan kepada perusahaan. Kecuali satu hal saja. Yaitu, pengalaman yang sudah berhasil kita simpan didalam diri kita. Yang satu ini, akan menjadi milik kita sampai akhir hayat.  

Tapi seperti yang saya katakan sebelumnya; ini tidak gratis. Anda harus membayarnya. Masih ingat dengan apa? Bukan dengan uang Anda, karena meskipun saya butuh uang; saya sama sekali tidak menginginkan uang Anda. Bayarkan dengan tiga hal ini saja; (1) komitmen pribadi yang tinggi (2) tenaga yang lebih banyak, dan (3) waktu ekstra. Itu saja. Bagaimana? Sudah cocok harganya? Deal. Nah, jika Anda sudah siap untuk membayarnya dengan ketiga hal itu, sekarang saya mengundang Anda untuk menemani saya mempelajari cara memperkaya diri dengan pengalaman. Mari memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang , berikut ini:  

1.      Menyelesaikan pekerjaan utama tanpa cela. Seseorang punya pengalaman kerja bagus dalam CV-nya. Lalu direkrut oleh perusahaan yang membutuhkan karyawan berpengalaman. Namun dalam masa probation 3 bulan, orang ini tidak menunjukkan kinerja yang memuaskan. Orang ‘berpengalaman’ itu tidak lulus masa percobaan. Padahal menurut CV yang ada, dia sudah lama bekerja dibidang itu. Kenapa ya? Seperti membangun rumah yang wajib dimulai dengan menyelesaikan fondasinya terlebih dahulu. Pekerjaan utama Anda adalah fondasi yang tidak boleh ada cela. Mesti sempurna. Jika pekerjaan kita masih berantakan, itu menunjukkan keterampilan atau komitmen kita yang buruk. Tidak mungkin kita memperkaya diri dengan pengalaman yang lebih banyak, iya kan? Jadi, hal pertama yang mesti Anda pastikan adalah; pekerjaan harian Anda selesai dengan nilai sempurna. Anda mesti memperjuangkannya sampai kesempurnaan itu bisa dicapai. Indikasinya adalah; Anda tidak mengeluhkannya. Anda senang hati dan gigih selama menjalaninya. Dan Anda, menghasilkan kinerja dengan kualitas yang paling baik dibidang itu.

2.      Proaktif melakukan job enrichment. Meski banyak yang mengenal istilah ini, tapi hanya sedikit yang mau melakukannya. Job enrichment. Maknanya, seseorang yang punya posisi seperti orang lain; namun diberi tugas tambahan yang lebih banyak dari tugas dan tanggungjawab regulernya. Dengan job enrichment ini, seseorang mesti punya komitmen yang kuat untuk bekerja lebih banyak dan lebih lama dibanding orang lain; tanpa menuntut bayaran tambahan. Glek! Idealnya, job enrichment ini difasilitasi oleh perusahaan. Namun, selain tidak semua perusahaan punya kultur ini; program yang diinisiasi oleh perusahaan juga sering mendapatkan penolakan dari karyawan. Minimal sambutan yang dingin. Karena tanpa kesadaran yang tinggi; jarang ada karyawan yang mau melakukan kerja extra tanpa bayaran tambahan. Jika Anda ingin kaya dengan pengalaman, job enrichment merupakan pilihan tepat. Bagaimana jika perusahaan Anda tidak punya program ini? Anda yang harus proaktif mengusulkannya kepada perusahaan. Supaya Anda, mendapatkan kesempatan pertama dalam penerapannya

3.      Menjalani job enrichment secara informal. Perusahaan Anda, belum tentu mempunyai kesiapan system dan organisasi untuk melakukan job enrichment secara formal. Tetapi, kita bisa melakukannya secara informal. Salah satu cara yang bisa Anda coba adalah; datanglah kepada atasan Anda. Lalu menawarkan diri membantu menyelesaikan tugas-tugas beliau. (Glek! Lagi) Anda tentu mafhum bahwa atasan Anda mempunyai tugas dan tanggungjawab yang lebih tinggi dari Anda. Maka ketika Anda belajar menyelesaikan tugas beliau; Anda sedang mendorong diri Anda agar naik kelas dengan mendapatkan pengalaman mengerjakan tugas-tugas yang melampaui posisi Anda. Saya, mempraktekkan cara itu. Hasilnya? Hmmh… asyik banget. Dan saya, kena hukum karma. Beberapa anak buah saya mengetuk pintu kamar kerja saya, lalu katanya;”Pekerjaan saya sudah selesai Pak. Apakah saya bisa membantu menyelesaikan pekerjaan Bapak?” Nah. Profesional seperti inilah yang bakal mempunyai kekayaan pengalaman berharga bagi masa depan karirnya. Anda sudah terbiasa dengan perilaku ini? Jika belum, cobalah sekarang juga.

4.      Ikutilah projek-projek di departemen lain. Anda tentu sibuk sekali dengan tugas-tugas Anda. Apakah Anda senang jika perusahaan menugaskan seseorang untuk  membantu menyelesaikan tugas-tugas berat Anda? Tentu senang sekali ya. Tapi, percayalah; itu tidak akan terjadi. Tapi mari kita lihat sisi baiknya. Seseorang di departemen lain pun mengharapkan adanya tenaga bantuan karena mereka pun sama sibuknya dengan Anda. Dan seperti Anda, mereka juga tidak akan dapat tambahan orang dari perusahaan. Maka, Anda; boleh mendatangi kepala departemen atau direkturnya – dengan seijin atasan Anda – untuk menawarkan diri membantu terlibat dalam proyek-proyek mereka (Glek! Sekali lagi). Saya. Dulu mempraktekkan itu. Hasilnya? Boss-boss menelepon saya; “Ada jabatan kosong ditempat gue. Elo mau pindah ke team gue?!” Oh, sedap sekali. Anda, jika sudah terbiasa terlibat dalam proyek-proyek didivisi atau departemen lain, akan memiliki kekayaan pengalaman yang melimpah ruah. Dan kelak; Anda akan mendapatkan penawaran pertama ketika departemen itu sedang membutuhkan orang untuk mengisi jabatan kosong yang ada.

5.      Efektifkanlah waktu kerja Anda. Kita semua mempunyai tantangan yang sama, yaitu; waktu yang sangat terbatas. Makanya banyak orang ragu, bagaimana mungkin kita punya pengalaman yang kaya dalam waktu yang serba singkat ini. Hey. Waktu setiap orang sama. 24 jam sehari. Tapi kenapa ada yang tetap miskin dengan pengalaman. Dan ada yang kaya? Jawabannya terletak kepada seberapa efektifnya dia menggunakan waktu yang ada. Coba simak sekeliling Anda. Ada yang datang pagi-pagi absen. Bukan langsung bekerja. Melainkan pergi ke warung kopi, terus merumpi sampai jam setengah sembilan. Lihat fenomena jam makan siang. Setengah dua belas orang sudah pada berebut bubaran. Dan jam satu, masih belum balik lagi. Bagaimana dengan jam pulang kantor? Begitu ‘teng’, langsung ‘go’. Sahabatku, kekayaan pengalaman tidak bisa didapat dengan cara menggunakan waktu kerja seperti itu. Ingatlah bahwa waktu kita terbatas. Setiap detik, sangat berharga. Maka gunakanlah detik demi detik Anda untuk menambah kekayaan pengalaman. (Glek! Juga)
Banyak sekali Glek!-nya ya?

Sudah saya katakan sebelumnya. Bahwa kekayaan pengalaman tidak bisa didapatkan secara gratis. Anda harus membayarnya dengan 3 hal. Masih ingat apa saja itu? Yes. (1) komitmen pribadi yang tinggi (2) tenaga yang lebih banyak, dan (3) waktu ekstra. Saya tahu bahwa hanya sedikit orang yang mau membayarnya dengan ketiga hal ini. Makanya, hanya sedikit karyawan yang memiliki kekayaan pengalaman yang tinggi. Dan itulah pula sebabnya mengapa nilai mereka sangat tinggi. Mereka tidak perlu melamar kerja, karena banyak boss yang ingin mempekerjakan mereka. Mereka tidak perlu merengek minta kenaikan gaji karena mereka mendapatkan kenaikan gaji istimewa diluar jadwal regulernya yang setahun sekali itu.

Dan ketika pensiun kelak. Mereka memiliki bekal yang jauh lebih bernilai dibandingkan dengan sejumlah uang yang belum tentu mencukupi biaya hidup sampai tutup usia. Mereka. Menjadi punya lebih banyak peluang untuk bisa dilakukannya kelak setelah tidak berstatus sebagai karyawan lagi. Dan mereka, bisa melihat begitu banyak kesempatan yang bisa diraihnya. Dengan berbekal pengalaman yang beragam macam itu. Jadi, jelas sekali jika pengalaman sangat bermanfaat bagi hari esok kita. Maka mari sahabatku, kita belajar memperkaya diri dengan pengalaman. Demi kebaikan hari esok kita. Seperti yang Tuhan perintahkan dalam surah 59 (Al-Hasyr) ayat 18 : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwallah kepada Allah. Dan hendaklah setiap jiwa menyiapkan bekalnya untuk hari esok…..” Hari esok kita sungguh sangat panjang, sahabatku. Mari temani saya memperkaya diri dengan pengalaman berharga. Sebagai bekal untuk menempuhnya.

Cowok Dengan Rok Berwarna Pink


Memangnya siapa yang mau mengabaikan jati dirinya sendiri? Bahkan sekedar KTP saja kita tidak berani secara sengaja mengabaikannya kan? Benar. Tetapi identitas diri kita yang sesungguhnya tidak terbatas pada apa yang tertera dalam ‘kartu identitas’ atau data diri di HRD, maupun informasi yang tersimpan di kantor catatan sipil tentang diri kita.

Jati diri kita adalah; “Siapa diri kita yang sesungguhnya”. Mungkin, sampai sekarang saya belum benar-benar paham ‘siapa sesungguhnya diri saya ini’ mengingat begitu banyaknya hal tentang diri saya yang belum dipahami seluruhnya. Bagaimana dengan Anda? Jam 9.30 hari Jumat pekan lalu saya ada jadwal meeting dengan salah satu klien di seputaran Sudirman.

Tepat jam 11.30 meeting selesai. Lantas saya sembahyang Jumat di Masjid terdekat. Setelah itu, tanpa sempat makan siang langsung meluncur ke daerah Salemba untuk pertemuan yang lain. Orang-orang yang sekitar jam dua siang itu berada daerah itu tentu mengetahui bahwa saat itu hujan lebat mengguyur Jakarta hingga pandangan nyaris tertutupi oleh curahannya. Ketika itu, saya sudah sampai di lapangan parkir. Kalau boleh memilih, saya ingin tinggal saja didalam mobil. Namun, kan lucu juga menunda pertemuan padahal kita sudah berada di parkiran? Beruntung juga ada payung. Sehingga bisa menerobos hujan. Hasilnya, saya sampai di ruang pertemuan dengan sedikit basah dibagian bawah. Tapi masih okelah, mengingat keadaannya yang memang seperti ini.

Jam setengah tiga sore, pertemuan itu selesai. Saya pun pamit. Sampai di lobby, hujan lebih lebat dari yang tadi. Halaman kantor sudah terendam air setinggi beberapa senti. ‘Haruskah saya menerobos hujan yang sedemikian derasnya ini?’ begitu saya bertanya pada diri sendiri. Mesti. Soalnya, jam 5 sore nanti saya punya jadwal les musik didaerah Cibubur. Nggak bakal kekejar kalau harus menunggu hujan yang entah jam berapa berhentinya ini. ‘Kalau pun sepatu basah tak apa, toh di mobil ada alas kaki lain yang memadai….’. Lalu…. Breng…. Payung itu beraksi kembali.

Sampai di dalam mobil, hanya bagian kepala dan badan saja yang tidak basah kuyup. Celana panjang, seperti habis nyemplung ke kolam dengan kedalaman hingga ke paha. Ini baru masalah. Bisa masuk angin saya jika keadaanya demikian selama sisa perjalanan. Perut ini kerubukan juga karena sampai sesore ini baru diisi dengan bekal makan pagi yang disiapkan isi saya dalam breakfast box. Badan basah, perut kosong. Gawat.

“Tuhan, apakah gerangan pelajaran yang bisa saya dapatkan dari kejadian ini?” begitu saya membatin. Sambil terus memikirkan bagaimana mengatasi celana panjang yang basah kuyup ini.

Tuhan memang selalu menyediakan jawabannya. Dia mengilhamkan untuk mencari sesuatu yang mungkin tersedia didalam mobil sebagai pengganti celana panjang ini. Siapa tahu ada celana pendek bekas fitness yang masih tertinggal. Atau ada koran bekas. Atau apa sajalah. Ndilalah. Semua yang saya harapkan itu tidak ada. Tapi sebagai gantinya, ada mukena istri saya. Alhamdulillah. Anda tahu kan, mukena itu terdiri dari dua bagian. Atasannya berupa jilbab panjang. Sedangkan bawahannya berupa kain seperti rok besar. Tak perlu berpikir terlalu lama. Celana panjang basah pun diganti dengan rok mukena itu. Sekarang saya merasa seperti baru saja ganti kelamin. Dan tahukah Anda, apa warna mukena itu? Pink!

Mungkin ini kali palajarannya ya? Apa? Emboh. Saya belum mengerti. Tapi sudahlah. Yang penting badan sudah mulai terasa hangat lagi. Anehnya…. I can truly tell you the truth. Sejak rok mukena pink itu saya kenakan; hujan angin yang sangat lebat itu sepertinya tiba-tiba saja mereda. Tinggal gerimisnya saja sehingga saya menyesal juga tidak sabar menunggunya tadi. Oh, mungkin ini pelajaran soal kesabaran barangkali ya? Kita mesti lebih sabar menunggu sesuatu hingga tuntas. Supaya bisa mendapatkan yang kita inginkan. Tetapi, kemudian batin saya mengguggat;”Apakah memang kita harus menunggu sesuatu yang tidak jelas kapan tuntasnya, padahal masih ada janji dengan orang lain yang mesti ditepati?”

Bukan. Bukan itu. Karena saya yakin bahwa Tuhan menghendaki hamba-hambaNya untuk menepati janji. Jelas sekali perintahnya dalam kitab suci. Sehingga kenekatan menerobos hujan itu adalah tindakan yang benar. Oh, mungkin ini pelajaran tentang kesediaan untuk berkorban demi menjalankan komitmen. Kita sering menemukan orang yang mudah sekali mengabaikan komitmennya kan? Alhamdulillah. Hari ini, saya mendapatkan pelajaran berharga itu. Jika sudah berkomitmen, kita mesti berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya.

Saya pun keluar dari parkiran kantor itu. Biasalah di Jakarta, untuk meninggalkan suatu gedung kita mesti melakukan putaran ini itu. Dan ajaibnya. Tepat ketika saya berada di jalur utama persis didepan kantor itu; matahari tersenyum cerah! Udara Jakarta pun panas seperti sedia kala. Sungguh. Cuaca kembali terik seperti biasanya. Saya menyesal? Emmh… tidak juga. M-maksud saya. Bukan soal menerobos hujan deras itu yang sekarang sedang mengganjal hati. Ini loh. Rok warna pink yang saya kenakan ini!

“Ganjen amat sih. Nggak apa-apa lagi, kan nggak ada yang tahu ini…” Ngaku aja deh. Anda bilang begitu didalam hati. Kata hati saya juga awalnya bilang begitu. Tapi Anda tahu kan kalau hujan berhenti di jam sibuk kota Jakarta? Jalanan tergenang air sehingga lalu lintas tersendat. Para pengendara sepeda motor yang sedari tadi pada berteduh sekarang berhamburan sekaligus seperti laron yang berebut mengerubuti lampu. Breng….. semuanya menyerbu jalanan. Penjumlahan antara genangan air dengan orang-orang yang pada berebutan dijalan menghasilkan kemacetan yang tak terbayangkan. Tapi bukan itu masalah paling parahnya buat harga diri saya. Itu loh. Para pengendara motor itu. Setiap kali pengendara motor melewati saya atau berhenti disamping saya; mereka pada melirik kedalam mobil. Mereka memperhatikan rok warna pink saya!

Jika kita pernah ketemu, tentu Anda tahu penampilan dan potongan rambut saya. Cowok banget. Kemeja kerja saya berwarna biru dengan kombinasi garis putih. Keren kalau dikenakan dengan jas dan dasi. Tapi dengan rok warna pink? Oh!

“Tuhan, apakah gerangan pelajaran yang bisa saya dapatkan dari kejadian ini?” Mengenakan rok pink itu seperti tengah mengkhianati jati diri. Gue ini cowok tulen! Tapi mata semua orang seperti tengah menggunggat;”Elo itu laki apa perempuan sih?” Pertanyaan itu nyaring terdengar lewat setiap mata yang melongok kedalam mobil. “Atau… jangan-jangan elo AC-DC!” Waduh, lebih parah lagi.

Jati dirimu itu, Dadang. Sangat penting sekali. Ini adalah pelajaran tentang siapa diri kita yang sesungguhnya. Maka jangan sekali-kali engkau mencoba mengingkari siapa dirimu sesungguhnya. Mungkin engkau tidak mengingkarinya secara langsung. Namun engkau mengenakan atribut-atribut yang tidak sesuai dengan dirimu. Berperilaku yang tidak sepantasnya engkau lakukan. Maka engkau pun, kehilangan jati dirimu sendiri. Jati diri Anda, teman-teman. Sangat penting sekali.

Baiklah. Saya mengerti. Tapi saya tidak bisa menghindar kali ini. Darurat. Bukankah dalam keadaan darurat sikap, tindakan dan perilaku kita yang kurang pas masih bisa dimaklumi? Wajar dong melakukan ini. Atau itu. Kan keadaannya darurat!

Hmmh… masih belum mengerti juga rupanya kamu ini, Dang!

Tidak ada lagi hujan sekarang. Terik Jakarta seperti sedang musim kemarau saja. Meski jalanan tergenang. Tapi dibeberapa bagian jalur yang saya lalui keadaanya benar-benar Jakarta banget! Warung makan berjejer disepanjang jalan. Sementara perut ini terus keruyuk-keruyuk. Memang sudah saatnya untuk makan. Tapi…. Bagaimana bisa masuk ke warung-warung itu jika semua mata menatap keanehan bagian bawah tubuh ini? Saya memang termasuk orang nekad dan tebel muka. Tapi tidak sampai sebegitunya kaleee…..

Malu. Itulah sebuah kata yang dipesankan oleh Rasulullah untuk terus dipegang teguh. Bukan sembarang malu. Melainkan malu yang muncul didalam hati kita, ketika kita melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Sekalipun dalam keadaan darurat kebanyakan orang mau berkompromi sampai akhirnya timbullah budaya yang serba permisif. Segala keadaan bisa disebut darurat di zaman ini. Pakailah rasa malumu. Maka, kedaruratan tidak akan mendorongmu untuk melakukan ‘segala cara’.

Tiba saatnya untuk membayar di pintu keluar toll. Kaca pintu dibuka sesedikit mungkin agar petugas tidak sempat mengintip kedalam. Jelas sekali raut wajahnya yang menyiratkan tanda tanya; ‘ini orang nyembunyiin apa sih didalam mobil…? Kok sampai sebegitunya!’ EGP!

Pintu toll segera ditinggalkan. Tapi. Indikator bahan bakar menunjukkan jika sekarang sudah saatnya mengisi lagi. Masih bisa ditunggu sampai besok, sih. Cukup. Tapi jam 5 pagi besok saya harus pergi. Maka terpaksa deh, belok dulu ke pom bensin. Masalahnya, lubang pengisian bensin ada di sebelah kiri. Kaca jendela mesti dibuka lebih lebar supaya bisa berkomunikasi dengan petugas SPBU. Nggak masalah sih sebenarnya. Tapi cara dia menatap rok pink ini yang bikin panas hati. EGP lagi deh!

Perhatikan saja. Orang-orang yang perilakunya tidak sesuai dengan jati dirinya yang sesungguhnya, selalu menutup wajahnya supaya tidak terlihat orang saat sedang disorot oleh kamera atau tengah digiring di pengadilan. Itu pertanda bahwa jika kita tidak ingin dipermalukan, maka kita perlu memastikan hanya berperilaku yang memang pantas dan sesuai dengan jati diri kita. Tapi ada kok, ‘pesakitan’ yang masih bisa senyum didepan kamera tivi. Berarti nasihat Nabi tentang rasa malu itu tidak cocok dong? Bukan tidak cocok. Tapi orangnya saja yang sudah tidak mau mendengarkan bisikan hati nuraninya sendiri. Jadi, tetap bangga, ketawa ketiwi, dan hepi-hepi aja meskipun terbukti melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan jati dirinya.

Sebentar dulu. Dari tadi kita sudah menyebut frase ‘jati diri’ beberapa kali. Tapi, jati diri apa-an sih yang kita maksudkan? Saya akan menjawab pertanyaan ini dengan firman Tuhan dalam surah 95 (At-Tiiin) ayat 4 ini : “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya….” Tentu. Baik itu bukan hanya fisiknya saja. Tapi juga ‘dalemannya’. Inilah jati diri kita yang sebenarnya. Yaitu, sebaik-baik mahluk yang Tuhan ciptakan. Maka hanya hal-hal baik saja yang cocok menjadi atribut yang menempel didalam diri kita. Hal buruk, tidak cocok. Seperti tidak cocoknya rok warna pink untuk dikenakan seorang cowok.

Bagaimana jika kita nekat? Kenekatan saya menggunakan rok pink itu sudah menunjukkan beberapa konsekuensinya. Maka ayat ke-5 firman itu berbunyi begini; “Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya….” Kita ini memang diciptakan sebagai mahluk terbaik. Begitulah jati diri kita. Namun kita, bisa saja dihempaskan hingga ke tempat paling rendah. Jika kita nekad mendandani diri kita, dengan tindakan, perilaku, dan tingkah polah yang tidak sesuai dengan jati diri kita.

Peran Setiap Atasan Dalam HR Audit

Kali ini saya mengajak Anda menyimak artikel saya yang telah dipublikasikan dalam sebuah majalah HR. Topiknya bertema “Aspek Yang Paling Mendasar Dalam HR Audit”. Bagaimana jika Anda bukan orang HR? Anda perlu juga memahaminya. Iyya dong. Kan ini menyangkut SDM di team kita sendiri. Jika kita biarkan HRD mengurusinya sendiri belum tentu hasilnya sesuai dengan kebutuhan kita. Maka kita mesti ikut terlibat dalam pengembangannya. Dengan pemahaman yang baik terhadap aspek ini, kita berpeluang untuk bisa ikut berperan secara aktif dalam menemukan gagasan-gagasan pengembangan SDM yang lebih baik.

Sehingga team yang kita pimpin bisa berkembang secara optimal. Dan menghasilkan produktivitas yang maksimal. Bagaimana, Anda sudah siap? Baiklah. Kita mulai dengan memahami proses ‘HR Audit’.

HR Audit. Sepertinya sedang mewabah. Perusahaan-perusahaan besar khususnya, seperti sedang terkena demam ini. Baguskah? Oh, sangat bagus sekali. Jika ada demam dari suatu wabah yang baik, maka ini merupakan salah satunya. Dengan terkena demam ini, maka perusahaan bisa berharap adanya perbaikan dalam system atau tata kelola sumber daya manusianya. Lantas, apa dampak dari HR audit itu kepada proses pengembangan karyawan di perusahaan?

Kesungguhan untuk menindaklanjuti. Mari kita ambil contoh sederhana. Apakah diperusahaan Anda sudah dilakukan HR Audit? Sudah? Baiklah. Lantas apa follow up yang sudah dilakukan dari hasil audit itu? Bagus sekali jika di perusahaan Anda proses HR Audit itu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata. Kenapa? Karena ada indikasi jika dibanyak organisasi bisnis hasil audit itu hanya dibahas sampai rapat pimpinan, kemudian dimasukkan ke dalam lemari arsip. Selesai. Baru dibuka lagi nanti. Kalau ada yang bertanya soal itu.
Jika di perusahaan Anda sudah dilakukan follow-upnya, maka masih ada 2 pertanyaan lagi yang penting untuk kita renungkan.

Pertama, apakah program follow up yang dijalankan itu untuk melakukan perbaikan system dan tata kelolanya? Ataukah hanya sekedar untuk memenuhi keinginan pihak tertentu agar bisa melakukan presentasi yang menarik dihadapan para stakehorder? Kenapa pertanyaan ini penting untuk direnungkan? Karena ada juga indikasi bahwa program-program follow-up sering sekedar nice to have belaka. Ciri jika program itu sekedar untuk menyenangkan stakeholder adalah; tidak ada keterkaitannya langsung dengan perbaikan kinerja atau produktivitas karyawan. Padahal, fungsi HR berada digaris paling depan dalam peningkatan produktivitas, bukan? Hal ini, masih sering terlupakan. Makanya, tidak heran jika program follow up dari HR Audit itu sering on-off alias musim-musiman saja. Atau, tidak jelas apa keterkaitannya dengan peningkatan produktivitas karyawan. Ya pokoknya, ada kegiatan follow-up saja. Mestinya, tidak demikian.

Penjara prosedur dan administratif. Aspek apa saja sih yang difollow-up? Gampang ya menjawabnya. Yaitu; semua aspek dalam audit yang direkomendasikan perlu dilakukan perbaikan. Memang inilah jawaban yang tepat. Namun apakah hal itu bisa memberikan dampak signifikan? Bisa ya. Bisa tidak. Mengapa demikian? Karena jika kita mencermati aspek-aspek audit yang saat ini dilakukan; kebanyakan hanya berfokus kepada aspek-aspek administratif saja. Dimasa silam, aspek seperti itu disebut sebagai personalia. Belum berkelas Human Resource Development atau Human Capital Development. Istilahnya jadul sekali ya? Betul. Tapi pola pikir itu masih dominan dibanyak tempat sampai sekarang.

Sekarang, hampir tidak ada perusahaan besar yang menggunakan terminology ‘Personalia’ lagi. Tapi praktek-prakteknya sering hanya sebatas fungsi administratif saja. Tidak lebih dari itu. Maka tidak heran jika karyawannya jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan. Baik hard skill. Maupun soft skill. Ini menunjukkan bahwa fungsi mendasar HRDnya belum benar-benar berjalan. Meskipun namanya sudah lebih bergengsi dari sekedar sebutan ‘personalia’.

Kondisi ini tercermin pada aspek-aspek yang ditelaah dalam proses HR Audit. Perhatikan para pakar dan konsultan SDM berbicara tentang HR Audit. Aspek yang dibahasanya terutama berfokus kepada aspek administratif semisal: Proses rekrutmen dan orientasi, benefit, kompensasi, system evaluasi kinerja, proses pemutusan hubungan kerja, proses wawancara bagi yang mengundurkan diri, job description, dan berbagai macam formulir yang berlaku di keHRan, maupun tata kelola data-data karyawan. Aspek mendasar fungsi HRDnya sering ketinggalan.

Di Negara maju yang ketat system kebijakannya, bahkan HR audit dilakukan hanya sebatas untuk memastikan bahwa praktek-praktek pengelolaan HRnya tidak melanggar hukum. Karena setiap pelanggaran hukum mempunyai konsekuensi yang berat baik secara financial maupun terhadap reputasi perusahaan. Dan mereka – seperti halnya kita – lupa kepada fungsi HRDnya sendiri, yang jauh lebih besar dan lebih kompleks dari sekedar fungsi personalia. Kebanyakan HRD di perusahaan – semoga di perusahaan Anda tidak demikian – hanya sibuk dengan urusan administrative and policies. Namun, meninggalkan fungsi ‘people development’-nya.
Untuk mengaudit apakah perusahaan Anda seperti yang saya sebutkan diatas atau tidak, mudah saja. Tidak perlu mengundang konsultan. Dan tidak usah mengeluarkan biaya besar. Cukup dengan melihat komposisi energy, agenda utama, maupun aktivitas di HRD perusahaan Anda. Di aspek manakah lebih banyak alokasinya? Aspek-aspek administrative and policies ? Ataukah di dalam aspek ‘pengembangan’ sumber daya manusianya? Anda akan menemukan jawaban terbaiknya dengan menelaahnya sendiri.

Fungsi pengembangan SDM. Inilah fungsi yang membedakan antara Personalia dan Human Resources Development. Jika di suatu perusahaan lemah system pengembangan sumber daya manusianya, maka di perusahaan itu belum ada fungsi HRD. Meskipun ada HR Manager atau bahkan HR Direktur? Betul. Meskipun sebutannya HR Directorate, jika aktivitas pengembangan SDMnya lemah, maka fungsinya baru sebatas personalia saja.

Penting untuk melakukan HR Audit memang. Namun, dampak positifnya hanya akan benar-benar bisa diperoleh jika audit itu dilakukan mencakup prinsip yang paling fundamentalnya. Yaitu fungsi HRD itu sendiri. Bukan sekedar kepada prosedur, administrasi, dan policies belaka. Sayangnya, banyak perusahaan sudah cukup puas dengan mendirikan Departemen HRD, namun masih berkutat dengan fungsi personalia. Belum menapak ke level yang lebih tinggi. Yaitu, Human Resources Development functions. Padahal itu, adalah aspek yang paling mendasar dalam HR Audit. Namun belum banyak tersentuh selama ini.

Memang tidak semua aspek pengembangan SDM bisa ditangani secara internal. Tapi ada banyak sumber daya dari luar yang bisa membantu jika diperlukan. Jika berhasil menemukan mitra yang tepat untuk proses pengembangan ini, maka SDM dan perusahaan Anda akan merasakan manfaatnya.
To sum up. Lets start to audit your HR functions. And find out. Wheter you mostly focus its functions to administrative and policies, or you have already moved up to the next level of HR department contribution namely; Developing your people, to reach their upmost capabilities. And turning it, into higher level performance.