Home » » Menyelesaikan Pekerjaan Besar

Menyelesaikan Pekerjaan Besar

Apakah team Anda sudah bisa menyelesaikan tugasnya tanpa harus Anda ‘tongkrongi’? Sudah. Kalau begitu Anda adalah seorang pemimpin yang beruntung. Karena team kerja Anda tidak lagi harus selalu diawasi untuk bisa menghasilkan kinerja tinggi. Tapi, sebaiknya jangan terlalu lama senangnya. Apalagi terlalu lama merasa nyaman dengan kondisi seperti itu. Situasi itu menunjukkan bahwa team Anda sedang ‘under challenged’. Mengapa? Karena mereka bagus mengerjakan tugas rutin padahal boleh jadi sebenarnya team Anda itu mempunyai kapasitas yang sanggup mengerjakan tugas-tugas yang lebih besar. Ciri jika team Anda sedang mengerjakan tugas yang benar-benar berbobot tinggi adalah; mereka tidak lagi bisa menyelesaikannya tanpa keterlibatan intens Anda didalamnya. Lho, tugas pemimpin kan mengelola, bukannya terlibat langsung dalam pekerjaan? Betul. Jika kita hanya mengacu pada konteks tugas regular. Tapi soal pekerjaan besar? Yang menantang. Yang kreatif. Yang penuh terobosan. Kita, tidak mungkin bisa melepas mereka mengerjakannya sendiri. Apakah Anda berani mengajak Team Anda untuk menyelesaikan pekerjaan yang benar-benar besar? Ataukah cukup puas dengan pekerjaan harian yang bikin semua orang adem ayem?

Saya meluangkan waktu untuk menyaksikan tayangan acara “MAKAN BESAR” di tivi. Beda dengan acara kuliner lainnya. Tayangan itu sarat sekali dengan pelajaran kepemimpinan. Chef Ragil bukan seorang juru masak yang puas dengan menyelesaikan masakan porsi kecil. Seperti badannya, dia suka membuat masakan dengan ukuran BESAR. Membuat rolade biasa, misalnya. Gampang. Tapi kalau rolade itu menghabiskan 500 butir telur, sekarung buncis, sekeranjang wortel, dan 50 ekor ayam? Hmmh… ini bukan pekerjaan kecil. Ternyata, tantangan membuat rolade dengan ukuran 100 kali normal, tidak sama dengan membuat rolade biasa dikalikan 100. Begitu pula halnya dengan menyelesaikan pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaan regular harian kita. Maka hanya pemimpin yang bersedia terus mengasah diri saja yang berani membawa teamnya untuk menyelesaikan tugas-tugas besar. Sedangkan kebanyakan pemimpin, sudah puas dengan kinerja baik anak buahnya menyelesaikan pekerjaan regular. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar cara membangun kapasitas team kerja dalam menyelesaikan pekerjaan besar, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Selesaikan tugas regular dengan sempurna. Tugas harian, tidak bisa ditawar-tawar. Harus tuntas dengan sempurna. Tidak ada gunanya mengerjakan tugas besar jika tugas kecil yang wajib malah keteteran, bukan? Maka sebelum membawa team yang Anda pimpin untuk naik level dengan membangun kemampuan yang lebih tinggi, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa pekerjaan dasar, ditangani sebaik-baiknya. Lho apa bedanya dengan yang selama ini kita lakukan? Beda sekali. Selama ini, kita berjibaku untuk menyelesaikan tugas regular agar dinilai baik karena telah menyelesaikan tugas sebagai karyawan. Sedangkan konteks kita adalah; menyelesaikan tugas regular dengan baik agar kita bisa mulai melatih diri untuk membangun keunggulan. Makanya, selesaikan tugas harian secara akurat dan segera. Agar kita punya lebih banyak waktu dan sumber daya, untuk membangun keunggulan pribadi.

2. Membangun visi team kerja. Semua anak buah sudah pada pinter. Kita tidak ada di kantor pun mereka tetap bekerja dengan baik. Apa lagi? Beres, kan? Tinggal nyantai dong. Betul. Jika tujuan Anda sebagai seorang pemimpin ‘hanya sampai disitu’. Artinya, Anda memimpin hanya untuk menyelesaikan tugas. Lalu mengatakan ‘mission accomplished’. Menyelesaikan misi, bukan levelnya pemimpin. Melainkan gaya para pelaksana. Pemimpin, mesti punya Visi. Tepatnya, visi Anda pribadi dalam memimpin team kerja Anda. Apakah hanya sebatas menyelesaikan misi yang dibebankan oleh perusahaan? Atau lebih dari itu? Untuk membanguan kapasitas team menyelesaikan pekerjaan besar, kita mesti mempunyai Visi pribadi yang tinggi terhadap pertumbuhan team kita. Sehingga setelah menyelesaikan tugas-tugas pokok itu, kita tidak segera berpuas diri lalu berhenti dan berongkang kaki. Kita segera melakukan konsolidasi, menyingsingkan lengan baju sekali lagi. Lalu bergiat bersama menyelesaikan pekerjaan yang lebih besar. Yang ini, bukan semata untuk perusahaan. Melainkan untuk pertumbuhan team dan perkembangan setiap pribadi yang tergabung dibawah bendera kepemimpinan Anda. So, mulailah bangun visi team kerja Anda.

3. Melakukan eksperimen bersama team kerja. Pekerjaan yang melampaui tugas-tugas regular, kemungkinan belum ada rumusnya. Belum dibuat juklaknya. Tidak ada contohnya. Maka disaat seperti inilah seorang pemimpin hadir bersama team kerjanya, untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kenapa mesti begitu? Karena kita percaya, bahwa cara lama hanya akan membawa kita kepada hasil yang sama. Sedangkan pekerjaan besar kita, butuh lebih dari sekedar hasil seperti yang selama ini kita capai. Makanya, cara lama tidak selalu cocok lagi. Dan karena belum ada juklaknya, maka kita mesti mencobanya. Mencari tahu, cara ini hasilnya begini. Cara itu dampaknya begitu. Kita menyebutnya sebagai eksperimen. Ajaklah anggota team Anda untuk bereksperimen sehingga mereka menemukan banyak hal yang akan memperkaya referensi dirinya melalui berbagai momen ‘aha…’ dan ‘eureka…’ Dan izinkan diri Anda menjadi bagian dari eksperimen itu, bukan hanya menjadi penonton atau pemberi perintah. Seperti yang dicontohkan Chef Ragil ketika bereksperimen membuat telur dadar raksasa dengan berbagai bentuk dan ukuran wajan penggorengan. Sebagai pemimpin, kita mesti mau melakukan eksperimen bersama mereka.

4. Mencari solusi untuk masalah yang terjadi. Memang, idealnya anak buah kita bisa menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi. Tapi itu hanya berlaku untuk tugas reguler. Untuk tugas besar? Mungkin ilmu mereka belum sampai ke tahap itu. Maka ketika itu terjadi, kita mesti ada disana. Waktu membuat telur dadar besar itu, misalnya. Cara yang dikira bakal bisa dilakukan ternyata menemui kegagalan. Semua orang pada bingung, mesti bagaimana nih? Semua koki sepertinya kehabisan akal. Chef Ragil memutar otak, lalu menemukan solusi lainnya. Singkirkan penggorengan datar. Ganti dengan yang melengkung. Kemudian, dia memegang salah satu pegangan penggorengan itu. Sementara asistennya menuangkan seember telur kocok, Chef bertubuh subur itu memutar-mutar penggorengan raksasa itu. “Aha! Ternyata berhasil!!!” Seorang pemimpin mesti menunjukkan bahwa; ada solusi untuk setiap masalah yang terjadi.

5. Merayakan keberhasilan bersama team dan lingkungan. Apa yang terjadi ketika sebuah team berhasil menyelesaikan sebuah pekerja yang extra ordinary? Beginilah pemandangan umumnya; Pemimpinnya dipersilakan naik ke panggung. Menerima piagam penghargaan. Difoto bersama Presiden Direktur. Lalu disambut dengan tepuk tangan meriah para hadirin. Bandingkan dengan yang ini: Ketika rolade RAKSASA itu berhasil dibuat, mereka bersama-sama membuka aluminium foil yang membungkusnya. Lalu Chef Ragil membuat potongan-potongan porsi normal, kemudian dia menyerahkannya kepada para asistennya. Lalu asistennya menyerahkan porsi kecil itu kepada para penonton di lokasi masak. Kemudian mereka semua bersama-sama merayakan keberhasilannya. Sebagai seorang pemimpin, kita patut menyerahkan kredit keberhasilan itu kepada anak buah. Dan mengajak mereka untuk membagikan MANFAAT keberhasilan itu kepada orang-orang disekitarnya. Kepada departemen lain. Kepada divisi lain. Sehingga seluruh elemen perusahaan bisa menikmati hasilnya. Dengan begitu, team kerja Anda mempunyai kebanggaan tersendiri yang mereka sadar bahwa Anda benar-benar mengapresiasinya. Sedangkan orang-orang yang berada di departemen lain di kantor, turut merasakan manfaatnya.

Jika team kita sudah bisa bekerja dengan baik, meski kita tidak ada; maka kita adalah pemimpin yang efektif. Itu teori kepemimpinan lama. Dalam teori kepemimpinan yang baru, saya mengusulkan agar Anda tidak lagi mengukur efektivitas kepemimpinan dari kemampuan anak buah menyelesaikan tugas-tugas harian mereka. Melainkan dengan kemampuan Anda membangun visi team untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas besar yang lebih menantang. Lebih menguras daya diri, dan lebih menuntut; untuk mengoptimalkan kapasitas diri hingga di puncak tertingginya. Dengan teori kepemimpinan yang baru ini; puncak prestasinya bukan lagi pada momen ketika seorang pemimpin ongkang-ongkang kaki sambil mengatakan;”semua tugas dijamin tuntas”. Melainkan kehadiran seorang pemimpin yang tanpa henti membawa team yang dipimpinnya untuk terus menerus mengeksplorasi diri. Pemimpin seperti ini sejalan dengan sabda Rasulullah; “Jika hari ini kalian lebih buruk dari kemarin, maka kalian bangkrut. Jika hari ini sama dengan kemarin, maka kalian orang yang rugi. Dan jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka engkau adalah orang yang beruntung”. Dalam management zaman modern, kita menyebutnya; Continuous Improvement. Siap melakukan Continuous Improvement di team Anda? Mari mulai sekarang juga.

0 comments: