Home » » Genggam Erat Sebuah Harapan

Genggam Erat Sebuah Harapan

Lihatlah seorang Ibu tua dan seorang anaknya dengan penuh semangat sedang menjajakan nasi bungkus daun pisang dagangannya di pinggir jalan di kota damai Banjarmasin. Saat itu petang menjelang dengan tergesa-gesa. Sinar cahaya dari lampu jalan tak cukup mampu menerangi dagangannya. Lalu lalang derap langkah kaki kerumunan orang dan kendaraan datang silih berganti. Siapa pula yang tertarik membeli? Namun, mereka berdua silih berganti menyapa dan menawarkan dagangannya. "Ibu, mengapa Ibu yakin ada yang ingin membeli dagangan Ibu" "Lalu bagaimana Ibu bisa menjajakan barang di keremangan dan suasana yang sedemikian riuhnya seperti ini?"


Dengan sederhana Ibu itu menjawab, "Ibu tak pernah kehilangan harapan," begitu jawabnya. "Itulah satu-satunya yang membuat Ibu tetap semangat. Ibu tak tahu apa dan bagaimana membesarkan usaha ini, namun Ibu hanya tahu harapan takkan pernah meninggalkan Ibu bila Ibu terus menggengamnya"
Ah, ungkapan yang begitu lugu dan menyentil ruang kesadaran hati. Belajar dari sebuah filosofi yang sederhana dan syarat dengan makna, semestinya kita berterima kasihlah pada orang-orang papa yang mampu memberikan teladan dan menebarkan harapan perbaikan hidup pada kita. Mereka bagaikan tiang penyangga yang mampu menahan langit dari keruntuhan. Dan mereka bagaikan peredup terik mentari kehidupan yang adakalanya hidup terasa panas membakar.


Seorang guru yang bijak akan berkata, sebuah harapan akan memampukan seorang Ibu menyusui anaknya, dengan harapan mempu mendorong kita menanam benih kebaikan suatu saat nanti sempat atau pun tidak kita petik buahnya yang ranumnya. Dengan harapan seorang cacat mampu menggapai prestasinya, dengan harapan seorang tua renta mampu membesarkan anak-anaknya hingga berhasil, dan dengan harapan sebuah perusahaan mampu terus mengembangkan sayap usahanya. Pahamilah bila kita kehilangan harapan meski sekali saja, sama artinya kita kehilangan kekuatan kita untuk menghadapi dunia ini.
Tulislah berjuta harapan dalam lembaran putih dengan tinta pena keinginan dan kesungguhan hati kita. Bawalah gengaman harapan bersama setiap detak langkah menggapai kenyataan. Niscaya kita kan takjub karenanya ketika harapan dan kenyataan begitu erat kita gemgam dan raih