GPS untuk Android


NAVITEL NAVIGASI TERBARU V.7.0.0.176

   1. untuk aplikasi Navitel v.7.0.0.176 apk dan Voices Indonesia anda boleh DOWNLOAD DISINI.
        Password : abbysof

   2. untuk Maps ( peta ) Indonesia yang baru diupdate bulan April 2013 DOWNLOAD DISINI atau http://www.navigasi.net/goclk.php?i=MF_N2237u_AL

       silahkan kunjungi www.navigasi.net. anda boleh bergabung disana dan tentunya dapat memberi kontrbusi
 pemetaan didaerah anda.



iGO MyWay


480x320 version
3 part join pake hjsplit dulu baru extract rar nya
(tested by 
me)
filename=480x320.rar
size=530339203
crc32=7BBA3719
http://www.media*fire..com/?ysfssvpy4m7cua0
http://www.media*fire..com/?uged56clmenct4c
http://www.media*fire..com/?46thu2plpmr4q6c

LOKAL
http://www.maknyos..com/sbz7xxxufhn6...s.com.001.html
http://www.maknyos..com/s6nzp5c90zsl...s.com.002.html
http://www.maknyos..com/768zz6ea9dfg...s.com.003.html

Asia Pacific Map
Latest Maps and Pois
Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapore, Taiwan, Thailand
http://www.media*fire..com/?wm17j94qx42z5o4

LOKAL
http://www.maknyos..com/agezl3yn1d4i.....com.rar.html
credit to agan 
ardX


Voice, POI & Bahasa Indonesia, dapat diambil di
http://www.media*fire..com/download....hp?ztl2ojyymmi
Sumber dari 
sini

cara penggunaaan:
1.dunlud
2.extract
3.taruh folder iGO dan apk nya di SD
4.install apk nya...
Saran agar iGO cepet ngelock
-pada saat buka iGO,usahakan APN nya posisi ON
sumber dari 
http://kaskus.co.id/show_post/000000...00000385877269

Untuk menambahkan maps AsiaPasificnya juga cukup mudah, tinggal extract file hasil download, lalu copy ke folder2 yang sudah tersedia di iGO/Content/

sumber dari 
sini, silahkan jalan2 untuk lebih lengkapnya


2. Papago

Papago adalah salah satu aplikasi gps yang sekarang cukup terkenal. Papago juga mengeluarkan aplikasi untuk Android. Bagi temen2 yang pengen mencoba instal Papago bisa mendownload link di bawah ini dan proses instalasinya.

Pertama bisa download dulu database Papago Indonesia dari link berikut:
Papago Indonesia atau link kelima file

1. Di halaman web di atas tersedia 5 link database Papago. Jika sukses download ekstrak filenya, nanti akan ada folder yang namanya 'NaviIND'.
File cukup besar sekitar 500MB.

2. Download 'key' (libpapago.so) berikut. File libpapgo ini tergantung jenis papago dan OS Android. Yang saya ada libpapago untuk Papago Indonesia X5 eclair (Android 2.1) dan froyo (Android 2.2). Untuk libpapago froyo bisa juga dipakai untuk gingerbread.
libpapago eclair
libpapago froyo

3. Copy lippapago.so ke folder 'NaviIND'

4. Download apk file untuk Android berikut (apk file ini sepertinya belum compatible untuk layar besar spt tab).
PAPAGO_X5IND_0806.apk

4. Konek handphone Android kamu ke PC dan transfer lewat USB. Copy paste folder NaviIND di root sdcard kamu. Unmount terus disconnect.

5. Install file apk untuk Papago Indonesia yg ini 'PAPAGO_X5IND_0806.apk'.

6. Jika berhasil boleh dijalankan file Papago X5 Indonesia ini. 

7. Untuk map Indonesia bisa download di link berikut:
Navigasi.net

Cari link 'download'. Kemudian cari map yang sesuai untuk Papgo. Website ini selalu update jadi jangan khawatir dengan update map terbaru. Sebagai informasi maps Indonesia lumayan besar juga, 230MB.

8. Jika berhasil download, buat folder baru 'INDONESIA' dan ekstrak ke dalam situ. Kemudian copy paste folder 'INDONESIA' ke NaviIND\Maps di handphone kamu. Langkah 7-8 ini bisa juga dilakukan setelah nomor 3 di atas. 

9. Untuk ganti ke map Indonesia, jalankan Papago: masuk Menu-Setting, scroll ke bawah klik Map Version pilih map Indonesia (navigasi.net)

credit to agan 
genun, sumber dari sini
Spoilerfor update papago: 


3. NAVITEL
GPS NAVITEL Navigator

1. Donlot apk, 
[MF]Navitel Navigator
Mirror -> 
[EU] Navitel Navigator install
2. Donlot map 
navigasi.net_Free_Indonesia_GPS_Map_Navitel_.exe
extract ke PC, biasanya ke c:\mymaps
avigasi
avitel.
Didalamnya akan ada 33 file berekstensi *.nm2
3. Kopikan folder navitel yg berisi 33 file *.nm2 ke sdcard -> sdcard:
navitel*.nm2
4. Buka navitel, agak lama, sabar gan tunggu aja, ntar muncul bahasa rusia, ntar pilih aja english, tekan tanda centang di pojok bawah kanan, nah mungkin navitelnya akan close sendiri, buka lagi navitelnya
5. Akan muncul turn on NAVITEL.JAMS ? pilih yes alias tanda centang
6. Muncul tulisan YOUR GPS settings... bla..bla... pilih centang
7. Muncul "Atlas was not found, do you want to build it", pilih centang
8. Scroll kebawah dan klik sdcard, akan muncul popup "Create Atlas" ,dll, pilih Create Atlas, tunggu sampe 33 file tadi dikenali navitel
9. selanjutnya terserah anda...


Navitel Indonesia Voice
0421~Indonesia(SPX).zip
extrak filenya ntar di dalemnya ada folder 0421~Indonesia(SPX), kopikan folder tsb ke sdcard -> sdcard:NavitelContentVoices

Navitel Costum Voices utk bahasa laen 
Download Costum Voices
credit to agan 
specialex, sumber dari sini

Papago adalah salah satu aplikasi gps yang sekarang cukup terkenal. Papago juga mengeluarkan aplikasi untuk Android. Bagi temen2 yang pengen mencoba instal Papago bisa mendownload link di bawah ini dan proses instalasinya.

Pertama bisa download dulu database Papago Indonesia dari link berikut:
Papago Indonesia atau link kelima file

1. Di halaman web di atas tersedia 5 link database Papago. Jika sukses download ekstrak filenya, nanti akan ada folder yang namanya 'NaviIND'. File cukup besar sekitar 500MB.

2. Download 'key' (libpapago.so) berikut. File libpapgo ini tergantung jenis papago dan OS Android. Yang saya ada libpapago untuk Papago Indonesia X5 eclair (Android 2.1) dan froyo (Android 2.2). Untuk libpapago froyo bisa juga dipakai untuk gingerbread.
libpapago eclair
libpapago froyo

3. Copy lippapago.so ke folder 'NaviIND'

4. Download apk file untuk Android berikut (apk file ini sepertinya belum compatible untuk layar besar spt tab).
PAPAGO_X5IND_0806.apk

4. Konek handphone Android kamu ke PC dan transfer lewat USB. Copy paste folder NaviIND di root sdcard kamu. Unmount terus disconnect.

5. Install file apk untuk Papago Indonesia yg ini 'PAPAGO_X5IND_0806.apk'.

6. Jika berhasil boleh dijalankan file Papago X5 Indonesia ini. 

7. Untuk map Indonesia bisa download di link berikut:
Navigasi.net

Cari link 'download'. Kemudian cari map yang sesuai untuk Papgo. Website ini selalu update jadi jangan khawatir dengan update map terbaru. Sebagai informasi maps Indonesia lumayan besar juga, 230MB.

8. Jika berhasil download, buat folder baru 'INDONESIA' dan ekstrak ke dalam situ. Kemudian copy paste folder 'INDONESIA' ke NaviIND\Maps di handphone kamu. Langkah 7-8 ini bisa juga dilakukan setelah nomor 3 di atas. 

9. Untuk ganti ke map Indonesia, jalankan Papago: masuk Menu-Setting, scroll ke bawah klik Map Version pilih map Indonesia (navigasi.net)

Coaching tidak dapat berdiri sendiri


Coaching is not enough? Ya, saat saya bingung menentukan judul apa untuk artikel ini, tiba-tiba diingatkan sebuah film yang berjudul The World Is Not Enough. Sebagian dari anda tentu pernah menontonnya bukan? Dan juga sepertinya pertama-tama saya perlu mengucapkan terima kasih buat mas Teddi P. Yuliawan karena dia yang memotivasi saya untuk mulai menulis artikel kembali setelah ngobrol santai kami di whatsapp.

Well, coaching sepertinya sedang booming saat ini di Indonesia. Beberapa coaching school berdiri, beberapa Coach Trainer kelas dunia mulai melirik Indonesia sebagai salah satu negara tempat mereka mengadakan pelatihan. Beberapa orang yang berada di bisnis pengembangan SDM mulai menyebut menambahkan kata Coach di kartu nama mereka, terlepas mereka memang benar-benar pernah mempelajari coaching dan menggunakan metode coaching dalam membantu kliennya.

Dan apa yang tulis ini adalah pandangan saya dalam perspektif pribadi, 100% benar dalam persepsi saya dan belum tentu seperti itu dalam pandangan anda sebagai pembaca artikel ini. Dan saya tidak ingin terlibat dalam debat kusir tak berujung mengenai persepsi ini.
Indonesia sedang mengalami euforia coaching saat ini. Kalau kita sedikit menengok kebelakang, saya ingat Indonesia pernah mengalami masa di mana kata Motivator menjadi trend. Banyak orang yang berlomba-lomba menyebut dirinya dengan sebutan ini dengan berbagai model. Kemudian era tersebut beralih, banyak orang yang berda dalam bisnis ini menyebut dirinya sebagai Konsultan. Lalu beberapa tahun yang lalu sebutan Terapis dan sejenisnya menjadi trend dan kini sepertinya sebutan Coach mulai memasuki eranya. Dalam kacamata bisnis, menurut saya sih sah-sah saja.

Dengan munculnya coaching sebagai sebuah trend baru di Indonesia. Saya percaya Coaching School yang mengajarkan coaching yang benar menurut standar yang disepakati oleh Federasi Coach Dunia seperti ICF akan banyak bermunculan di Indonesia karena ini akan menjadi bisnis yang sangat menarik dan mendatangkan profit yang menjanjikan.
Dan dengan banyaknya orang-orang yang akan mempelajari coaching yang terstandarisasi, saya berharap kedepannya semoga lebih banyak orang yang tahu jawaban jika suatu ketika ditanya dengan pertanyaan “Apa perbedaan peran Motivator dan Coach?” atau “Apa perbedaan peran Trainer dan Coach” atau juga “Apa perbedaan peran Terapis dan Coach?” dan mampu melakukan coaching sesuai dengan metode coaching bukan lainnya.

Nah, sekarang saya ingin menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan di artikel ini. dan saya akan membahas topik ini dari sudut pandang profesi saya sebagai seorang Executive Coach. Jadi pengamatan saya adalah fenomena yang terjadi di Perusahaan yang menjadi klien saya yang belum tentu mewakili populasi Perusahaan di Indonesia.
Saat ini Perusahaan mulai tergila-gila dengan coaching. Mereka mulai berlomba-lomba menjadikan coaching sebagai tools maha ampuh untuk mengembangkan sumber daya manusia Perusahaan. Mereka menggunakan coaching untuk semua hal yang berkaitan dengan pengembangan SDM. Hasilnya? Implementasi coaching yang  gagal. Mereka kecewa karena coaching tidak berhasil menjadi obat yang ampuh bagi Perusahaannya. Nantikan Video Book saya yang akan membahas tentang “6 Kesalahan Perusahaan Saat Implementasi Coaching di Perusahaan”. Jika anda beruntung anda mungkin akan mendapatkannya secara GRATIS. 

Mengapa demikian? Karena coaching tidak dapat berdiri sendiri. Begitu banyak Manager menganggap semua hal dapat diselesaikan dengan coaching. Mungkin mereka begitu terpengaruh dengan apa yang mereka terima di kelas Coaching Training yang menceritakan betapa hebat dan kerennya coaching itu.

Coaching memang hebat dan keren, TAPI coaching bergantung pada metode yang lainnya. Coaching tidak dapat berdiri sendiri. Tidak semua tantangan di dalam Perusahaan dapat selesai dengan coaching. Seorang Manager perlu mampu menjalani beberapa peran dalam tugasnya sebagai seorang Manager. Mereka perlu dan butuh mampu menjadi seorang Coach tetapi juga mereka perlu menjadi seorang Trainer bagi timnya. Perlu juga menjadi Mentor, Konsultan atau bahkan menjadi Konselor/Terapis bagi timnya. Tidak hanya itu seorang Manager tetap WAJIB menjalankan fungsinya sendiri sebagai seorang Manager yang perlu mengambil keputusan pahit dan tidak populer di dalam waktu yang sempit, dimana coaching bukan pilihan tools yang tepat untuk itu.

Saya menulis artikel ini berharap anda yang membacanya memiliki pemahaman yang lain tentang coaching karena jika anda sebagai Manager di dalam Perusahaan menjadikan coaching sebagai satu-satunya tools pengembangan SDM di Perusahaan anda, TANPA memberikan kesempatan kepada teknik development yang lain untuk berjalan beriringan, berdasarkan pengalaman saya hampir pasti biaya yang dikeluarkan akan menjadi sangat besar dan juga muncul biaya intangible yang perlu ditanggung seperti semakin skeptisnya beberapa Manager karena coaching yang katanya hebat dan keren seperti yang didemonstrasikan di kelas training tetapi amat sangat tumpul di praktek yang sebenarnya.
So, menutup tulisan saya ini. Saya percaya coaching adalah tools yang amat sangat powerful jika penggunanya tahu dimana dan kapan waktu yang tepat mulai melakukannya, kepada siapa yang perlu di coaching dan kepada siapa yang belum saatnya di coaching. Selamat membudayakan Coaching di Indonesia.

Coaching


Apa itu coaching?
Mari kita mulai dari sini. Dari sebuah pertanyaan yang pasti akan ditanyakan oleh orang awam. Dan kala kita tanya kembali, “Apa yang pernah Anda dengar tentang coaching?” jawaban yang mungkin muncul adalah: olah raga.
Ya, istilah coach dan coaching memang amat erat dengan dunia olah raga. Tak salah memang, sebab coaching yang kita maksud dalam artikel ini memang sedikit banyak ada kaitannya dengan yang ada di dunia olah raga. Ada kaitannya, tentu ada pula bedanya.
Jamak kita dapat bahwa dalam olah raga, coach bukanlah pemain. Coach pun bahkan bukan mantan pemain. Ada coach yang kalaupun pernah bermain, tidak pernah cemerlang. Ia cemerlang kala menjadi coach. Sebaliknya, mudah pula kita temukan mantan pemain cemerlang serupa Michael Jordan yang tak kinclong kala menjadi coach. Maka mudah kita simpulkan, menjadi coach memerlukan keahlian tersendiri. Coaching adalah sebuah ilmu khusus, yang kala tak dikuasai mantan pemain yang ingin menjadi coach, ia takkan sukses. Sisi lain, bukan pemain namun menguasai ilmu coaching, bisa jadi sukses sebagai coach.
Apa yang dilakukan seorang coach kalau demikian?
Nah, ini bedanya. Seorang coach dalam olah raga, umumnya memiliki kapasitas untuk mengajari. Dan sangat sering kita melihat mereka memberi instruksi. Namun coaching yang kita maksudkan di sini bukan yang serupa itu.
Adalah Timothy Gallwey, seorang pelatih tenis yang disebut-sebut mempopulerkan paradigma baru tentang coaching. Dulu, ia melatih dengan mengajari. Namun ia kemudian menemukan bahwa seorang atlet bukan tidak mampu menunjukkan performa karena tidak tahu caranya, melainkan karena ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya yang menghambat. Maka ia pun mengubah gaya coaching-nya, tidak lagi mengajari, menjadi memfasilitasi. Ia lebih banyak mengajukan pertanyaan, yang kemudian mengajak para atlet menemukan jawabannya sendiri. Singkat cerita, jadilah pendekatan ini sebuah buku bertajuk “The Inner Game of Tennis”. Saya sangat merekomendasikan para pembelajar coaching untuk menyelami buku ini.
Menariknya, ia kemudian menyadari bahwa pendekatan ini tidak hanya bisa diaplikasikan dalam dunia olah raga. Ia bisa menggunakannya bahkan untuk melakukan coaching terhadap—salah satunya—para musisi. Musik bukanlah keahliannya. Namun serangkaian pertanyaan yang ia ajukan rupanya membantu para musisi menemukan jawaban atas kondisi mereka. Jadilah ia menulis serangkaian buku-buku lain dengan tajuk depan “The Inner Game of”.
Segeralah pendekatan coaching serupa ini menjadi bahan kajian yang massif di era 90-an. Lalu terbentuklah salah satu asosiasi coaching yang kini masih terbesar di dunia, International Coach Federation (ICF).
Sampai di sini, coaching yang kita maksud bukanlah cara untuk mengajari. Maka coaching, bukanlah training. Jika bukan training yang umumnya berbentuk kelas, coaching pun bukan mentoring yang masih serumpun dalam soal pengajaran meski bentuknya adalah satu lawan satu.
Jika coaching bukan training dan mentoring, lalu apa?
Banyak orang kemudian terbingungkan membedakan coaching dengan terapi atau konseling. Apa pasal? Ya karena keduanya tampak seperti percakapan yang sama. Yang membedakan, dan ini sungguh jauh, adalah apa yang terjadi dalam percakapan itu. Terapi atau konseling, umumnya adalah percakapan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan psikologis. Dalam bahasa mudahnya, terapi atau konseling membantu klien untuk berpindah dari kondisi minus (memiliki masalah) ke kondisi netral (nol, tidak mengalami masalah).
Nah, sebuah situasi baru kemudian muncul. Setelah seseorang tidak memiliki masalah psikologis, apakah lalu ia sehat?
Di titik inilah kemudian coaching menunjukkan peranannya. Orang yang sehat, rupanya memiliki kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, untuk berekspresi, untuk berkontribusi melalui performanya. Inilah kebutuhan yang disebut Abraham Maslow sebagai aktualisasi diri. Bedanya dengan orang yang perlu terapi, kebutuhan model ini tidak pernah terpuaskan. Maka menggunakan psikoterapi atau konseling untuk membantu orang yang ingin mencapai tujuan yang besar sungguh sebuah kekeliruan, karena terapi dan konseling didasarkan pada teori-teori yang lahir dari riset terhadap klien klinis. Sedang, klien yang sehat, dan ingin maju keluar dari zona nyamannya, memerlukan metode yang didasarkan pada riset terhadap orang-orang sehat, orang-orang yang telah mengaktualisasikan dirinya.
Dalam bahasa mudahnya, kalau terapi membantu klien kembali ke titik normal, maka coaching membantu klien berpindah dari titik normal ke titik yang ia ingin tuju.
Ah, bukankah training dan mentoring pun demikian?
Betul. Hanya saja, karena training dan mentoring merupakan proses pengajaran, maka titik paling tinggi yang mungkin dicapai oleh klien adalah titik yang ada dalam materi training itu, atau titik yang menjadi puncak pengalaman sang mentor. Padahal, bisa jadi klien memiliki tujuan lain, atau berpotensi mencapai lebih dari itu. Maka dalam coaching, proses yang terjadi adalah fasilitasi, sehingga klien kemudian akan menemukan sendiri bahwa ia mampu mencapai apa yang menjadi tujuannya.
Inilah sebab mengapa 2 keterampilan utama dalam coaching adalah mendengar dan bertanya. Mendengar untuk memahami klien, bertanya untuk memfasilitasinya dalam melebarkan dan mendalamkan pemahaman, sehingga memungkinkannya melakukan hal-hal yang berbeda, dan ujungnya mencapai hasil yang berbeda pula.
Apakah artinya orang bisa mengalami coaching hanya jika ia berada dalam kondisi ‘sehat’ dan memiliki pengetahuan dasar yang memadai?
Ya. Inilah yang disebut dengan coachability. Kesiapan klien untuk keluar dari zona nyamannya, ditantang, bergerak, berinisiatif, melakukan hal-hal yang berbeda. Orang yang sedang ‘sakit’ tentu belum siap untuk menjalani proses ini. Begitu pun orang yang belum memiliki pengetahuan dasar yang diperlukan.

Mengapa coaching?
Alasan sederhana dan paling mudah adalah ini. Menurut Anda, mana kah yang lebih besar populasinya, orang yang sedang sakit atau sehat?
Meskipun memang orang yang sakit tak bisa dibilang sedikit, namun secara perkiraan jumlahnya tetap lebih sedikit daripada orang sehat. Kalau tidak, lalu siapa yang menjalankan dunia sekarang? Hehe..
Lagi. Di organisasi, mana yang jumlahnya lebih banyak: orang yang mengalami masalah psikologis sehingga terhambat dalam bekerja, atau orang sehat yang perlu dibantu untuk mencapai target-targetnya?
Tentu pula yang kedua.
Artinya, coaching jauh lebih banyak diperlukan dibanding terapi, konseling, training, dan mentoring. Eit, jangan salah kira. Bukan yang lain tak penting. Hanya kebutuhannya—sebenarnya—tidak sebanyak coaching.
Sungguh pengalaman kami dalam berbagai organisasi menunjukkan jauh lebih banyak orang yang sudah tahu apa yang dilakukan, tapi belum juga bergerak, daripada orang yang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka coaching, jauh lebih banyak dibutuhkan kini, ketika kita mengharapkan produktivitas yang lebih tinggi, kepuasan dan keseimbangan hidup yang lebih baik, karakter yang lebih kokoh, pemimpin yang berintegritas tinggi.

Internet Explorer (CTRL+N) Tidak berfungsi

Bilamana ada masalah IE6, setelah proses upgrade ke IE8 dan kembali downgrade ke E6, namun saat tombol CTRL+N di tekan dan tidak mau membuka window baru, maka solusinya adalah : Click Start, Run and type cmd and press enter.

In the command Prompt window type Regsvr32 actxprxy.dll and press Enter key.

If the command was successfully executed, You will receive the message DllRegisterServer in actxprxy.dll succeeded window.

Pelajaran belum selesai


Kalimat judul di atas adalah kata-kata seorang sahabat saya ketika kami bertemu beberapa waktu lalu di sebuah rumah makan di Tebet. Dia menceritakan pengalaman getir sekaligus takjub yang baru saja dialaminya. Sahabat saya ini adalah ahli pijat yang langka. Cara kerjanya terlihat simple tapi, sangat manjur sekali. Dalam hitungan menit, pasien langsung bisa merasakan sakitnya membaik.
Pengalaman dalam terapi menggunakan pijatannya yang langka mungkin sudah sangat banyak sekali. Ribuan orang telah merasakan betapa dahsyat pijatannya. Saya sendiri pernah merasakannya, sedikit pijatan atau mungkin boleh dibilang hanya dengan sedikit sentuhan seperti ada aliran listrik menjalar dari titik yang disentuhnya.
Jam terbangnya tak diragukan lagi dengan pijatan langkanya, namun kali ini ia harus menghadapi kondisi getir yang di luar dugaan. Pasien yang diterapinya mengalami kejang-kejang, seorang perempuan tua. Beberapa anggota keluarga berkumpul menjaga perempuan ini dan tentu saja sahabat saya dengan perasaan bercampur aduk segera melakukan terapi lanjutan. Dalam hatinya, seperti yang disampaikan kepada saya, jika sampai meninggal perempuan tua ini, saya mungkin akan digebukin orang banyak atau saya akan diseret ke penjara. Ia pun pasrah dengan kemungkinan terburuk.
Kemudian, ia pun menghubungi seniornya dan mendapatkan saran-saran apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi seperti ini. Akhirnya, perempuan tua ini sembuh.”Ajaib rasanya,”ungkapnya sahabat saya dengan penuh rasa syukur dan lega. Lebih jauh, sang senior mengatakan bahwa kamu harus mengalami kejadian seperti ini sebagaimana para senior lainnya. Ini merupakan pelajaran yang sangat berharga.”Ternyata, pelajaran belum selesai,” kata sahabat saya.
Benar sekali, selama kita hidup pelajaran belumlah selesai. Apa yang dialami sahabat saya, pun saya mengalaminya. Bedanya, jika teman saya menterapi fisik, saya menterapi emosi dan mental. Saya sudah melakukan banyak terapi, bahkan diantaranya dengan hasil yang sangat sempurna. Beres dalam hitungan menit.
Pernah suatu ketika, beberapa terapi saya mengalami kegagalan. Hasilnya di luar perkiraan, meleset jauh. Saya serasa mendapat pukulan yang telak. Seperti seorang petinju kelas dunia dikalahkan oleh petinju amatiran. Muncul dalam batin sebuah bisikan, “aku tidak mau menterapi lagi”. Benar-benar membuat emosi dan mental seorang terapis emosi dan mental jatuh, menukik ke bawah dengan tajam.
Kondisi ini berdampak sangat buruk bagi saya. Sangat  terbebani hingga  berimbas kepada profesi saya sebagai terapis maupun trainer. Ada perasaan bersalah, masak menyelesaikan beban sendiri aja sulit kok malah mau terapi orang lain. Dan benar saja, beberapa permintaan terapi gagal terlaksana alias saya tidak ada order pekerjaan.  Artinya pemasukan pun kosong. Padahal biasanya, jika ada permintaan terapi selalu terlaksana. Seingat saya ada 6 permintaan terapi yang tidak jadi dan beberapa di antaranya membutuhkan beberapa sesi terapi.
Saya segera sadar ada yang tidak beres dengan diri saya terutama adanya beban dari hasil terapi yang gagal. Lalu, saya pun melakukan “self therapy” untuk membersihkan semua beban ini. Secara berangsur, semuanya beres. Saya pun merasa enteng sekali dan pekerjaan pun mulai lancar kembali. Bahkan banyak peluang datang berduyun-duyun, sungguh di luar dugaan.
Saya sangat bersyukur dengan kondisi yang semakin membaik ini. Kejadian yang pernah saya alami memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa pelajaran hidup belumlah selesai selama kita masih hidup. Misteri tentang kehidupan tak kan pernah usai sepanjang kehidupan kita. Tatkala kita telah menyelesaikan suatu permasalahan, akan ada lagi masalah yang mungkin lebih berat lagi untuk kita selesaikan.
Masalah datang bukan untuk membunuh kita, melainkan agar kita menjadi semakin bertumbuh, meningkat dan kuat. Bukan kegagalan yang harus disesali tapi pelajaran apakah yang kita peroleh darinya. “Jika semuanya mudah kita lakukan dan berhasil dengan baik semua, kapankah kita akan belajar? ” kata Mas Noeryanto A. Dhipuro yang banyak mengajari saya tentang terapi dan pelajaran hidup.
Pelajaran lain adalah seperti pepatah mengatakan di atas langit masih ada langit. Mungkin keberhasilan yang telah diraih membuat kita merasa sudah pintar, sudah cukup dan sudah tidak perlu belajar lagi. Dengan kegagalan, kita jadi tau bahwa ilmu kita tidaklah seberapa, masih banyak ilmu yang belum kita ketahui yang tak bakal bisa kita kuasai semuanya hingga akhir hayat. Kegagalan juga tak selalu buruk meski kita menyesali pada awalnya. Namun, kita tidak pernah tau apa rencana Tuhan. Boleh jadi lewat kegagalan ini, Tuhan sedang menunjukkan sebuah kebaikan yang sedang kita butuhkan.
Akhirnya, saya pun teringat dengan kata-kata bijak ini, “Semuanya belum berakhir, baik dan buruk siapalah yang tau?”. Terima kasih ya Allah atas pelajaran ini. Ijinkanlah dan bimbinglah diri ini untuk senantiasa rendah hati. Mensyukuri segala keberhasilan tanpa rasa sombong. Belajar dari kegagalan dengan penuh keikhlasan tanpa rasa kecewa.

Tentang Associated dan Disassociated

Sembari Anda duduk dan membaca tulisan ini, Anda bisa mulai memikirkan sebuah pengalaman yang paling lucu yang pernah Anda alami. Lihatlah dengan mata kepala Anda sendiri apa yang terjadi ketika itu. Dengarkan dengan seksama suara atau musik apa saja yang muncul. Rasakan kembali perasaan yang Anda pada saat itu sepenuhnya.

Ambil waktu Anda, dan nikmati Anda kembali pada masa itu.

Sekarang, keluarlah dari pengalaman tersebut. Saya tidak tahu persis bagaimana Anda akan melakukannya, namun jadikan pengalaman itu sebagai sebuah film yang sedang diputar di bioskop dan Anda duduk di bangku penonton menontonnya. Lihatlah film Anda dari sudut pandang seorang penonton dan dengarkan suara atau musik yang muncul dari sound system di gedung bioskop tersebut. Pada saat yang sama, rasakan apa yang Anda rasakan demi melihat kesemuanya sebagai seorang penonton.

AHA! Anda bisa merasakan perbedaanya, kan?

Bagus. Jika Anda sudah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya mengenai rep system dan temannya si submodality, maka ini adalah aplikasi yang sedikit lebih mendalam mengenai keduanya. Yang baru saja Anda rasakan adalah submodalitas associated dan disassociated. Associated adalah kondisi kita berada dalam konteks kita mengalami suatu kejadian tertentu. Ibarat sebuah film, maka kita menjadi aktor dari film tersebut dan karenanya kita melihat, mendengar, dan merasakan dari sudut pandang kita sendiri. Sebaliknya, disassociated terjadi ketika kita ’keluar’ dari konteks kejadian tersebut. Masih dengan metafora film, kita bisa menjadi penonton ataupun petugas bioskop yang memutar film tersebut.

Ah, petugas bioskop! Jika Anda menginginkan, Anda bisa mencoba kembali latihan di atas dengan menambahkan 1 langkah lagi, yaitu menjadi petugas bioskop yang memutar film diri Anda. Dengan demikian, Anda akan melihat diri Anda sedang duduk menonton sebuah film tentang diri Anda. Lihat film tersebut, dengarkan suara atau musik yang muncul, dan rasakan kembali demi melihat kesemuanya.

Berbeda lagi rasanya, kan?

Nah, kemampuan asosiasi-disasosiasi ini adalah salah satu keterampilan penting dalam NLP. Betapa tidak, begitu banyak teknik NLP didasarkan atas prinsip ini. Coba perhatikan, dalam kondisi associated intensitas emosi biasanya sangat tinggi, dan karenanya kita sulit untuk memahami sebuah pengalaman secara obyektif. Sebaliknya, kondisi disassociated memungkinkan kita untuk tetap merasakan emosi yang sama namun dengan intensitas yang lebih rendah dan tingkat kesadaran (consciousness) lebih tinggi sehingga bisa memahami pengalaman yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Di titik inilah kita bisa merasakan secara riil prinsip the map is not the teritory.

Loh, nyambung toh?

Jelas nyambung. Masih kembali ke uraian tentang rep system, kita tidak akan pernah bisa memahami kejadian yang kita alami, sebab kejadian itu sendiri sudah tidak murni lagi ada dalam pikiran kita. Kita melihat, mendengar, dan merasakan sensasi dari luar, lalu otak kita mengkodenya menjadi bentuk gambar, suara, dan perasaan dalam diri kita. Ditambah dengan saringan dari keyakinan (belief), nilai-nilai (value), dll, film yang ada dalam pikiran kita semakin terdistorsi dan menyesuaikan diri dengan berbagai saringan tersebut. Jadilah ia sebuah film yang tidak lagi menggambarkan kejadian aslinya, melainkan justru menggambarkan cara pandang kita sebagai penonton demi melihat kejadian tersebut.

Sedikit bingung? Tenang, contoh sekarang.

Apa yang muncul dalam benak Anda jika saya mengatakan kata ”gempa”?

Bagi Anda yang pernah mengalami gempa seperti saya, mungkin kata tersebut akan memunculkan sebuah gambaran kericuhan pada saat kejadian gempa disertai perasaan takut nan cemas yang melanda. Namun buat Anda yang tidak pernah mengalaminya, maka kata yang sama bisa jadi hanya memunculkan ingatan akan berita-berita di televisi tentang berbagai gempa yang pernah Anda lihat.

See? Sebuah kata (baca: teritori) yang sama memunculkan respon yang berbeda-beda pada tiap orang, sebab people response to their internal maps. Ya, kita tidak pernah merespon terhadap sebuah kejadian, melainkan terhadap ’peta’ yang kita miliki tentang kejadian tersebut.

Nah, disinilah associated-disassociated menjadi alat yang penting jika kita ingin memahami sebuah situasi dengan lebih obyektif. Dengan disassociated terhadap sebuah pengalaman yang ada dalam pikiran, maka kita ’melepaskan’ diri sejenak terhadap ’peta’ yang kita miliki terhadap pengalaman tersebut untuk kemudian dapat menyesuaikan ’peta’ tersebut sehingga menjadi sebuah ’peta’ yang lebih empowering.

Berminat mencoba saat ini?

Vibrasi Positif dengan Reframing

Apa menurut Anda yang akan Anda rasakan jika Anda mampu berada dalam kondisi positif 24 jam sehari 7 hari seminggu?

Luar biasa tentunya, bukan? Membayangkan diri terbebas dari belenggu mood dan beragam situasi eksternal yang seringkali kita anggap memegang kendali terhadap pikiran dan emosi jelas adalah hal yang amat menggembirakan. Sisi lain, berkaitan dengan vibrasi positif yang menjadi syarat penting dalam LoA, kondisi (state) positif amat memungkinkan kita untuk memancarkan vibrasi positif setiap saat kapan pun kita menginginkannya.

Nah, salah satu teknik dalam NLP yang merupakan favorit saya untuk selalu berada dalam kondisi positif ini adalah reframing. Reframing istimewa bagi saya karena kesederhanaannya (meskipun belum tentu mudah) namun memiliki efek yang besar sekalipun seringkali dilakukan hanya dengan menggunakan percakapan saja.

Prinsip dasar reframing adalah mengubah keberatan menjadi keuntungan. Dengan syarat keberatan tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa diubah lagi. Misalnya, cacat tubuh, kejadian di masa lalu, anggota keluarga, dll yang memang di luar lingkaran pengaruh kita untuk berbuat sesuatu guna menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Didasarkan pada asumsi bahwa di balik setiap perilaku/kejadian terkandung maksud positif, reframing mengajak kita untuk keluar dari kerangka berpikir ‘masalah’ dan melompat ke dalam kerangka berpikir ‘solusi’ atau ‘tujuan/outcome’.

Lalu, bagaimana kita bisa melakukannya?

Ada cukup banyak teknik reframing yang hingga kini ditemukan oleh para pakar NLP. Kumpulan teknik tersebut seringkali disebut sebagai Sleight of Mouth Pattern atau Mind-Lines Pattern dalam Neuro-Semantic. Namun dalam kesempatan kali ini, saya hanya akan membahas 2 jenis reframing yang paling dasar dan cukup ampuh untuk menjadikan kita senantiasa berada dalam kondisi positif: context dan content reframing.

Context Reframing

“Tubuh saya terlalu tinggi!”

Menggunakan jenis ini, kita memindahkan suatu hal atau kejadian dalam konteks ruang/waktu yang berbeda sehingga memunculkan makna baru yang lebih positif. Dalam contoh keberatan di atas, maka kita bisa bertanya, “Dalam konteks apakah tubuh yang tinggi tersebut menjadi keuntungan?” Dan beragam jawaban pun bisa kita munculkan mulai dari cocok sebagai olahragawan, tidak memerlukan tangga untuk mencapai tempat yang tinggi, tidak terhalang ketika nonton konser, sampai pada mendapatkan udara yang lebih segar karena udara yang berada di atas lah yang masih murni dan menyegarkan.

Bagaimana dengan, “Tubuh saya terlalu pendek!”?

Dengan pertanyaan yang sama kita bisa menemukan banyak konteks seperti lebih lincah dalam bergerak, lebih hemat dalam membuat pakaian (apalagi jika si orang ini memiliki orientasi finansial yang tinggi), dll.

Jika Anda masih ingat dengan pembahasan kita tentang Meta Model, maka reframing jenis ini amat pas jika digunakan pada kalimat keberatan yang menggunakan pola universal quantifiers.

Content/Meaning Reframing

Berbeda dengan context reframing, pada jenis ini kita menggali makna lain yang lebih positif dari suatu hal atau kejadian tanpa memindahkan atau mengubah kejadiannya.

“Anak buah saya sulit untuk diajak kerja cepat! Tidak sabar saya dibuatnya.”

Menggunakan content reframing, kita bisa bertanya, “Apa makna lain yang positif dari anak buah yang sulit diajak untuk bekerja cepat?” Seketika, kita pun dapat menemukan pertanyaan baru seperti, “Bukankah itu berarti mereka mengerjakan pekerjaan dengan hati-hati?” Dan BUM! Makna baru pun kita dapatkan. Dengan frame ini, sang atasan dapat lebih fokus untuk mendayagunakan anak buahnya agar dapat menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang lebih tinggi alih-alih pusing dengan kelambatan mereka.

Nah, apa yang bisa kita lakukan dengan keberatan ini: “Produkmu bagus, tapi harganya terlalu mahal!”

Yak, tepat. Salah satunya, “Benar. Kami memang tidak ingin mengorbankan kualitas hanya demi harga jual yang murah. Bukankah Anda juga demikian?”


Pertanyaan: Sama kah reframing dengan positive thinking?

Jawaban saya: ya dan tidak. Bahwa kita mencari makna yang lebih positif itu benar. Namun reframing tidak sekedar mencari makna yang positif, ia adalah usaha untuk mencari makna positif yang empowering bagi kita.

Loh, memangnya ada berpikir positif yang tidak empowering?

Tentu ada. Misal, jika rekan Anda mengeluh, “Istri saya sangat posesif sehingga selalu menelepon saya setiap jam!” dan Anda mengatakan kepadanya, “Bukankah itu berarti ia perhatian kepada Anda?”. Ini adalah sebuah usaha untuk berpikir positif, namun pertanyaan saya, “Apakah Anda mau diperhatikan dengan cara seperti itu?” Reframing seperti, “Bukankah itu sinyal untukmu untuk dapat lebih peka dan mencari tah apa penyebabnya?” barangkali lebih tepat karena bersifat action oriented.

Nah, lalu apa kaitannya dengan vibrasi positif dalam LoA?

Sangat erat. Jika Anda ingin menjadi ‘magnet’ yang memiliki daya tarik positif yang kuat, maka Anda pun harus memancarkan aura positif yang kuat pula. Tanpa perlu teknik macam-macam yang njelimet dan memakan waktu, Anda bisa menjadi pribadi yang lebih positif dengan reframing. Ketika seseorang menyalip Anda di jalan dengan kasar, misalnya, alih-alih membiarkan emosi negatif Anda meluap Anda bisa mengatakan, “Barangkali ia memang sedang buru-buru karena ada anggota keluarganya yang sakit.” Beres, kan?

Atau, Anda pulang kantor dan jalanan macet luar biasa, “Wah, kesempatan buat baca buku dan menikmati musik nih.” Yang terakhir ini sering sekali saya lakukan sehingga saya tidak lagi merasakan kemacetan sebagai sebuah musibah.

Sederhana, kan? Tanpa perlu mengotak-atik kejadiannya, kita bisa menjadikan kejadian apapun lebih bermakna.

Well, memang tidak semua hal akan terselesaikan dengan reframing semata. Namun paling tidak kita bisa berpikir lebih jernih untuk kemudian mencari solusi yang lebih tepat.

Hebatnya lagi, jika Anda mempelajari beragam teknik-teknik NLP, Anda akan menemukan bahwa yang dilakukan NLP adalah reframing terhadap apa yang sudah seringkali kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tengok saja NLP Presuppositions:

Makna dari komunikasi ada pada respon yang kita dapatkan.

Di balik setiap perilaku pasti ada maksud positif.

Tidak kata gagal, yang ada hanyalah umpan balik.

Tidakkah ini semua adalah reframing yang excellent?

Bahkan, kita pun sudah seringkali melakukannya tanpa disadari. Anda ingat pernah mengatakan, “Ya, kita ambil hikmahnya saja lah”. Hey, bukankah itu content reframing?

Anda boleh tersenyum sekarang menyadari hal ini. Anda adalah reframer alamiah dan karenanya juga adalah pengirim vibrasi positif alamiah pula.

Eye Scanning Pattern

From the NLP point of view, eye scanning patterns_the movement of the eyes from one position to another_reflect connections and overlaps (synesthesias), and also discontinuities, between different representational system functions; and thus between different states, parts, personalities, neural structures, etc. If you ask a person to move his or her eyes “very slowly” from one basic eye position (i.e., up-left, down-right, up-right, lateral-left, etc.) to another, you will observe that movement is seldom perfectly smooth and linear. The ease or difficulty a person has in making such a motion is indicative of which cognitive and representational processes are habitually more connected or separated for that person.

Creativity, flexibility and learning involve the ability to think in new and different ways. One approach to developing new abilities is to find habitual ways of thinking and then change or add to them. One way to find and break habitual ways of thinking using NLP is through eye movement patterns. Since our eyes reflect patterns of our internal processes they may be used as a tool for both diagnosing and changing habitual thought patterns.

The following exercises were developed by Robert Dilts in 1986 in order to utilize eye scanning patterns as a means to explore your habitual thinking patterns, and then to expand and enrich them.

“Eye Skating”: Exercises For The “Mind’s Eyes”

Exercise 1: Exploring Representational Systems Through Eye Position

As an exercise, try the following experiment. Keeping your head oriented straight in front of you, put your eyes into each of the basic eye positions indicated on the eye movement chart. Hold each eye position for 30 seconds. Have a partner keep track of the time for you so you are not distracted.





Notice the differences you experience between each position. Are some of them more comfortable, natural or familiar feeling than some of the others? Does it feel to you as if you are actually holding your eyes for a longer time in some of the positions than others? In some of the positions you might find yourself thinking or making certain types of associations. In others, you may just draw a complete blank. Which eye positions do you associate more with creativity? stuckness? being a dreamer? being a realist? being a critic?

Exercise 2: Exploring the Effects of Eye Position on Problem Solving

As a further experiment, take some problem or idea you are working on and simply hold your eyes in these different positions for a few minutes while you are thinking of it. Notice how it effects your thought process in relation to the problem or idea. How has the way in which you are thinking about the idea or problem changed as a result of each eye position? Be especially aware of how you are affected by the unfamiliar eye positions. Do any of the eye positions bring out certain kinds of feelings, sounds or imagery? Does moving your eyes to any of these locations change any of the qualities of the images, sounds or feelings you already have associated to the problem or idea?

Exercise 3: Exploring Patterns of Eye Movement and Synesthesias

Our physiology, and in particular our eye movements, form the underlying circuitry through which our strategies are manifested. Thus, our strategies are only as effective as the neuro-physiological circuitry which supports them. Much creative thinking comes from our ability to link our sensory representational systems together – as in a synesthesia. Patterns of eye movements also reflect which senses we tend to habitually link together and how strong those links are.

As another exercise, try moving your eyes between various combinations of the different eye positions; say, from up left to down right and back again, or from up right to up left and back again (if you use all 9 positions, there are about 45 possible combinations). Some of the most common and significant patterns are shown below.





Some Basic Eye Movements

Move your eyes back and forth between the two eye positions you have chosen about 6 times. Start by moving your eyes very slowly at first and then speed up the movement. Try to move your eyes between the two positions in a straight, smoothly line. Then switch to another pair of eye positions and repeat the process again. Keep choosing new pairs until you have covered all of the basic pairs of eye positions.

Find a partner to act as an observer. Have your observer notice exactly how your eyes move between the two positions. You will probably soon realize that movement is seldom perfectly linear. Often the eyes will move in little jerks, pausing briefly in certain places along the path of trajectory. Often the eyes will arc rather than move in a straight line from one location to the other. Sometimes the eyes will move farther in one direction than the other.

Patterns of eye movements are a way of linking various parts of your neurology together by laying down a physiological track or path between the various parts of your brain that you use to represent information about the world around you. The ease or difficulty you have in moving your eyes to these different positions can help you to assess which neurological pathways are most open and smooth. In fact, we sometimes use this particular procedure to make what is called an “eye print” of an individual. Like a finger print, a person’s “eye print” is a representation about an individual’s unique characteristics – but on a neurological instead of physical level. Eye prints can help you to get insight into which parts of a person’s brain are habitually connected or separated, and thus what kinds of thinking processes a person might excel at or have difficulty with. This in turn can help assess what kinds of aptitudes, inner conflicts or personality traits a person might be most likely to experience and express. It can also be used as a way to define areas that may be improved and enhanced.

As in the previous exercise on eye position, take note of which patterns of movement seem most comfortable, familiar and natural. Do some patterns seem more related or conducive to certain types of thinking? Once again notice which patterns of movement seem more connected with creativity? stuckness? being a dreamer? being a realist? being a critic?

Exercise 4. Creating and Strengthening New Neurological Pathways

Take the patterns of movement which seemed the most difficult, awkward or uncomfortable and “beat a path” between the to eye positions by moving your eyes back and forth between the positions. Your partner can help you by using his or her finger as a guide for your eyes. Have your partner hold a finger about a foot to a foot and a half in front of you and move the finger back and forth between the two eye positions you want to link together more strongly. Your partner should begin by moving the finger very slowly at first in a smooth, even, linear path. As your eyes accommodate to the movement, ask your partner to increase the speed of the finger motion, tracing the same path. You may do this without a partner by drawing a line on a piece of paper and use it as a guide by holding it in front of you at the proper angle.

To assess the impact of creating these new links, once again take some problem or idea you are working on and notice how using each new circuit effects it. First take note of how you are thinking about the problem or idea. Is it primarily feelings, words, sound, or images? What qualities or submodalities seem to be emphasized in your current representation of the problem or idea? Then, without consciously focusing on the idea or problem, have your partner (or the paper guide line) lead you through the new eye pattern. Notice how it effects your thought process in relation to the problem or idea. How does the way in which you are thinking about the idea or problem change as a result of the new pattern? What changes in terms of the qualities of the images, sounds or feelings you had initially associated to the problem or idea?

Exercise 5. Exploring and Creating New Circuits Through Eye Movement Patterns

Clearly, more sophisticated thinking patterns tend to require more sophisticated patterns of eye movements. If you begin to observe people, you probably notice that a person’s eyes can move in some fairly involved sequences. Some patterns appear to be almost circular; others may be triangular, rectangular or some other type or combination of shapes (some examples are shown below).





Some Possible Patterns of Eye Movements

As an experiment, try tracing some of these basic kinds of shapes with your eyes. Make a circle, a square, a triangle or some other shape. Make sure you repeat the pattern a few times to get a sense for how it effects you. How easy or comfortable is it to move your eyes in that pattern?

Now try changing some aspect of the eye movement pattern. If you traced the circle in one direction, reverse it. If the base of the triangle was on the bottom, turn it upside down. What effect does that have on you or your state of consciousness?

As with the previous eye exercises, take some problem or idea you are working on and notice how using a new pattern of circuitry effects it. Once again, note the cognitive structure of how you initially think about the problem or idea. What aspects of imagery, sound and/or feeling seem to be emphasized in your starting representation of the problem or idea? Again, go through the new eye pattern without consciously focusing on the idea or problem, and notice how it effects your thought process in relation to the problem or idea. How does the way in which you are thinking about the idea or problem change as a result of the new pattern? What changes in terms of the qualities of the images, sounds or feelings you had initially associated to the problem or idea?

In NLP, these types of eye movement combinations are used in a more precise way to develop new thinking strategies – such as in the New Behavior Generator strategy.

Sometimes habitual synesthesia patterns can cause problems as well, and may need to be interrupted. The Failure Into Feedback strategy, in fact, explicitly addresses the relationship between eye position and synesthesia patterns. The process, which involves breaking and reestablishing synesthesia patterns through the use of eye movements, is described in detail in Changing Belief Systems with NLP (1990, pp. 25-53).

The process of EMDR (Eye Movement Desensitization Response), developed by Francine Shapiro, draws from this type of use of eye movements