Home » » Lincah Berbahasa

Lincah Berbahasa

Saya pernah mendengar adanya sebuah penelitian yang mengatakan bahwa koleksi bahasa yang dimiliki seseorang merupakan salah satu indikasi kecerdasannya. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin cerdaslah ia secara intelektual. Tidak mengherankan memang, sebab menggunakan common sense saja, bahasa adalah salah satu komponen penting komunikasi bagi manusia (dan mungkin semua makhluk). Sekalipun relasi lebih banyak terbangun melalui komunikasi non verbal, bahasa tetap memiliki peran krusial untuk menyampaikan ‘isi’ pesan yang ingin dikomunikasikan.

Well, barangkali karena kebanyakan kita mempelajari bahasa ibu secara otodidak sejak kecil, maka kita tidak pernah menyadari bagaimana persisnya otak kita merekam bahasa yang kita gunakan. Alhasil, tidak jarang orang yang merasa kesulitan untuk mempelajari bahasa lain selain bahasa ibu.

Mempelajari NLP, saya baru menyadari bahwa persoalan mempelajari bahasa baru bukanlah semata urusan teknis kosa kata dan tata bahasa saja. Belajar bahasa adalah masalah mindset dan keyakinan bahwa kita mampu untuk berbahasa secara lancar. Aha, saya jadi ingat seorang kawan yang beberapa tahun mengikuti kursus bahasa Inggris, mendapat sertifikat, dan berhasil meraih skor TOEFL cukup tinggi, ternyata gelagapan ketika harus menjalani interview via telepon dengan bahasa Inggris selama 30 menit. “Kamu bisa bayangkan kan penderitaanku selama 30 menit itu,” ujarnya satu kali kepada saya.

Ya, selayaknya keterampilan lain yang kita miliki, keahlian kita berbahasa pun memiliki struktur yang bisa dipelajari dan digunakan dalam konteks yang berbeda. Dalam kesempatan kali ini, saya ingin mengajak Anda untuk menggunakan salah satu teknik dalam NLP, Swish Pattern, guna memunculkan sumber daya keahlian berbahasa yang sudah ada dalam diri Anda. Sebelum kita mulai, saya ingin Anda menyimpan sementara pikiran logis Anda dan hanya menggunakan pikiran kreatif nan imajinatif dalam latihan kali ini.
Duduklah dengan posisi senyaman mungkin, pejamkan mata, dan buat diri Anda rileks.
Sekarang, saya minta Anda untuk memikirkan diri Anda sedang berbicara dalam bahasa yang sangat Anda kuasai. Cermati gambar dan suara yang muncul.

Gambar: Di manakah letaknya? Seberapa besar? Berwarna atau hitam putih? 3 atau 2 dimensi?

Suara: Dari mana kah arah datangnya suara Anda? Seberapa besar volumenya? Bagaimana kah kualitas suaranya?

Sembari mencermati kedua hal tersebut, perasaan apa kah yang muncul dalam diri Anda?

Buka mata Anda dan lihatlah sekeliling, kemudian hitung berapa jumlah lampu yang mati di ruangan Anda.
Selanjutnya, pikirkan diri Anda sedang berbicara dalam bahasa yang Anda ingin kuasai. Kembali, cermati gambar dan suara yang muncul seperti pada langkah no. 2.

Sembari mencermati kedua hal tersebut, perasaan apa kah yang muncul dalam diri Anda?

Buka mata Anda dan lihatlah sekeliling, kemudian hitung berapa jumlah lampu yang mati dan hidup di ruangan Anda.
Anda bisa menemukan perbedaanya? Bagus. Sekarang, tampilkan keduanya dalam pikiran Anda. Sudah? Sip. Dengan CEPAT, dan sambil berkata “WUUUUUSH!!!”, geser lah gambar bahasa yang ingin Anda kuasai ke tempat yang persis sama dengan gambar bahasa yang sudah Anda kuasai. Pada tempat tersebut, buatlah ia memiliki gambaran yang sama persis dengan gambaran bahasa yang Anda kuasai: ukurannya, warnanya, letaknya, jaraknya, begitu pula dengan suara yang muncul. Buat ia sama persis sehingga Anda bisa merasakan perasaan yang sama dengan perasaan pada bahasa yang sudah Anda kuasai.
Lakukan sebanyak 5-6 kali. Buka mata Anda dan lihatlah sekeliling, sembari mencermati pola pada lantai ruangan Anda.
Cobalah untuk berbicara bahasa tersebut. Anda bisa merasakan perbedaan yang luar biasa, bukan?

Jika Anda tidak memiliki keyakinan yang terlalu menghambat, teknik ini saja sudah cukup untuk membuat Anda PD berbahasa yang Anda inginkan. Bahkan, Anda akan terkaget-kaget karena baru menyadari bahwa Anda sebenarnya sudah menguasai kosa kata dan tata bahasa dengan cukup baik.

Kok bisa ya?

Tentu bisa, karena dalam perjalanan Anda mempelajari bahasa tersebut (melalui buku, menonton film, atau mendengar audio exercise) unconscious Anda sebenarnya sudah merekam amat banyak hal yang bisa Anda gunakan ketika membutuhkan. Hanya karena kita mengkodenya dengan kurang tepat dalam otak kita maka ia kesulitan untuk muncul ke permukaan.